AYOJAKARTA.COM — Di tengah tren penurunan minat investasi di kawasan Asia Tenggara akibat gejolak ekonomi global dan ketatnya pendanaan untuk startup, para angel investor tetap meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bangkit dan tumbuh. Salah satunya datang dari Mohammed Alabsi, seorang angel investor dan juga Chief Product & Technology Officer Hypefast.
Alabsi menerangkan, saat ini iklim investasi di Indonesia memang sedang menghadapi banyak tantangan. Data terbaru menunjukkan bahwa banyak investor asing menarik dana mereka dari pasar saham, dan nilai tukar rupiah terus melemah. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, tekanan makroekonomi, dan ketegangan dagang. Namun, ini merupakan bagian dari siklus wajar di pasar negara berkembang. Indonesia tetap punya fondasi ekonomi yang kuat untuk bisa bangkit kembali.
Menurut Alabsi, kenaikan suku bunga yang agresif sejak 2022 oleh bank-bank sentral di berbagai negara, khususnya AS, membuat investor global lebih memilih memindahkan dana mereka ke aset-aset yang lebih aman dan menghasilkan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, permintaan terhadap rupiah menurun, menyebabkan depresiasi dan membuat Indonesia semakin sulit menarik investasi asing.
Daya Tarik Indonesia Dibandingkan Negara Lain di Asia Tenggara
Meskipun demikian, Indonesia masih menjadi pemain penting di sektor teknologi Asia Tenggara. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai USD 146 miliar pada 2025, didorong oleh sektor e-commerce dan fintech. Ini menjadi bukti bahwa potensi pasar Indonesia tetap besar dan menjanjikan bagi para investor teknologi.
“Pasar yang sedang sulit justru bisa jadi peluang.“Valuasi jadi lebih masuk akal, dan ini bisa jadi saat yang tepat bagi investor jangka panjang untuk masuk,” lanjut Alabsi. Dengan IHSG turun hampir 7% dan pendanaan venture capital menurun 30% dibandingkan tahun lalu, banyak aset yang kini tersedia dengan harga menarik.
Beberapa sektor yang dinilai masih tumbuh pesat adalah e-commerce, yang diperkirakan akan mencapai transaksi senilai USD 46 miliar pada 2025, serta fintech, termasuk layanan pinjaman digital dan dompet elektronik yang semakin diminati oleh masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal.
Selain itu, sektor layanan cloud dan solusi enterprise berbasis SaaS juga terus tumbuh karena banyak bisnis yang ingin lebih efisien di tengah tekanan ekonomi. Di luar sektor digital, investasi di bidang kesehatan dan pendidikan juga menunjukkan tren positif, seiring komitmen pemerintah untuk memperbaiki layanan publik dan infrastruktur sosial.
Proyeksi 2025 dan Peran Teknologi
Meski pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2% di 2025, Alabsi menilai masih ada banyak ketidakpastian. Misalnya, tarif ekspor Indonesia yang naik akibat kebijakan dagang AS, serta perlambatan ekonomi di Tiongkok yang bisa berdampak negatif bagi Indonesia. Oleh karena itu, ia melihat investor akan cenderung berhati-hati dalam waktu dekat, sambil menunggu kepastian global.
Namun, ia percaya bahwa teknologi akan jadi kunci penting untuk membangkitkan kembali kepercayaan investor. Ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 130 miliar pada 2025 memperlihatkan bahwa transformasi digital sedang berjalan pesat di berbagai sektor. Inovasi seperti AI, cloud computing, dan blockchain membuat banyak sektor semakin efisien dan transparan, serta membuka peluang investasi baru di bidang fintech, healthtech, dan edtech.
Alabsi menegaskan bahwa startup yang bisa bertahan di tengah situasi sulit biasanya punya tim yang solid dan fleksibel, model bisnis yang jelas dan scalable, serta keuangan yang dikelola dengan hati-hati.
“Sebagian besar startup yang saya danai tetap bisa bertahan selama dua tahun terakhir, bahkan ada yang berkembang pesat. Kuncinya adalah fokus pada margin, cepat beradaptasi, mengelola keuangan dengan bijak, dan mengutamakan kebutuhan pelanggan,” ujarnya.
Share this article
Di tengah tren penurunan minat investasi di kawasan Asia Tenggara akibat gejolak ekonomi global dan ketatnya pendanaan untuk startup