AYOJAKARTA.COM – Beberapa waktu lalu nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sempat ramai diperbincangkan publik.
Ganjar Pranowo ramai disebut usai FIFA membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia (Pildun) U-20.
Ganjar Pranowo dituding sebagai penyebab FIFA kemudian memutuskan pembatalan Indonesia jadi tuan rumah.
Di sisi lain, nama Ganjar Pranowo ramai disebut sebagai salah satu kandidat yang bakal maju dalam Pilpres 2024.
Baca Juga: Amien Rais Pilih Prabowo daripada Ganjar di Pilpres 2024, Alasannya karena Jokowi
Sontak saja jika benar dirinya akan maju di Pilpres 2024, tentunya elektabilitas Ganjar Pranowo kemudian dipertanyakan.
Namun meski sebelumnya Ganjar Pranowo dituding sebagai biang keladi dibatalkannya Indonesia, ternyata elektabilitasnya justru mengalami peningkatan.
Survey elektabilitas tersebut berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Disebutkan bahwa Ganjar Pranowo justru menduduki peringkat pertama dengan perolehan suara sebanyak 26,8 persen suara.
Lalu, untuk peringkat kedua ada nama Ketum Gerindra, yaitu Prabowo Subianto dengan perolehan suara sebanyak 25,4 persen.
Selanjutnya, untuk urutan ketiga ada mantan Gubernur DKI Jakarta yakni Anies Baswedan dengan perolehan suara sebanyak 16,7 persen.
Untuk urutan keempat ada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang mendapat perolehan suara sebesar 13,8 persen.
Kemudian urutan kelima ada Mahfud MDD dengan perolehan suara sebanyak 4,1 persen dan AHY sebanyak 2,1 persen.
Berdasarkan penuturan Pengamat Politik Adi Prayitno, nama Ganjar Pranowo tetap unggul dalam survei elektabilitas dikarenakan kembalinya para pendukung Ganjar dan loyalis Jokowi.
Adi Prayitno juga menyebut jika para pendukung Ganjar dan loyalis Jokowi tersebut cepat memaafkan dan melupakan permasalahan saat Piala Dunia U-20 kemarin.
“Pemilihan kita itu cukup cepat melupakan, memang cepat marah tapi cukup cepat untuk memaafkan,” ujar Adi Prayitno dilansir dari Suara.com pada Selasa, 18 April 2023.
“Banyak kejadian baik dari elit politik dan calon yang dibenci dan di-bully, tetapi setelah itu publik lupa dan kembali dipilih,” imbuhnya.***

Share this article
Elektabilitas naik usai Ganjar Pranowo dituding sebagai penyebab FIFA kemudian memutuskan pembatalan Indonesia jadi tuan rumah.