AYOJAKARTA.COM – Berdasarkan letak geografisnya, Banten menjadi wilayah yang mendapat ancaman adanya potensi gempa megathrust Selat Sunda.
Ancaman gempa megathrust ini semakin nyata jika dilihat dari riwayat banten yang pernah digunjang gempa berkekuatan 6,6 magnitudo di awal tahun 2022.
Adapun riwayat tsunami pada 2018 silam yang menewaskan lebih dari 400 korban jiwa, membuat pemerintah lebih gencar untuk melakukan mitigasi bencana untuk menghadapi kemungkinan gempa megathrust maupun tsunami yang akan terjadi.
Baca Juga: Puluhan Korban Gempa Cianjur Alami Trauma hingga Gangguan Jiwa Berat, Begini Kondisinya
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube tvOneNews, Irma Narulita sebagai Bupati Pandeglang, Banten, menyampaikan bahwa dengan adanya ancaman bencana tersebut perlu adanya regulasi dari pemerintah.
Mengingat bahwa ternyata struktur bangunan pemukiman warga tidak kuat dan tidak bisa tahan untuk menghadapi bencana, perlu adanya penyelamatan warga.
“Sebagian rumah warga kami tuh 35%-40% ya ngga pakai sub ngga pakai tulang gitu ya. Tapi kami ingin menyelamatkan yang menjadi pusatnya patahan lempengan megathrust itu ada di Kecamatan Sumur,” kata Irma.
BMKG sempat melakukan sekolah lapangan di beberapa wilayah Banten untuk mengedukasi masyarakat, namun Irma menilai itu perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Terimakasih BMKG telah melakukan dulu pernah ada sekolah lapangan dan sebagainya. Tapi tidak mungkin hanya satu kali dua kali saja. Itu harus terus menerus yang harus dianggarkan oleh pemerintah kabupaten, provinsi, pemerintah pusat,” ucap Irma.
Ternyata masih banyak warga yang tinggal pada zona merah di bibir pantai, dengan jumlah 1.127 rumah atau KK.
“Mereka sekarang tinggalnya dekat dengan pantai. Jadi saat kami ingin menyelamatkan mereka, ada 1.127 rumah atau KK yang tinggalnya di bibir pantai yang zona merah,” ungkap Irma.
“Jadi kalau ada tsunami 20-30 meter, habis mereka,” lanjutnya.
Pemerintah daerah sendiri telah menyiapkan rambu-rambu, tanda jalur evakuasi dan menentukan titik kumpul pada saat terjadi bencana.
Baca Juga: Kominfo Buka Lowongan Kerja Jadi ASN di 9 Formasi, Cek Sekarang
Namun dari salah satu pengakuan warga, mengaku bahwa belum ada jalur evakuasi dari pemerintah. Ia mengatakan jika terjadi gempa maka warga akan mencari jalur evakuasi sendiri.
“Nyari jalan sendiri, ke sawah aja,” kata salah satu warga.
“Jalan pemerintah gimana? Ngga ada. Nggrusuk-nggrusuk sama rumput-rumput,” lanjutnya.
Menurut pengakuan dari warga, wilayah Banten memang kerap kali diguncang gempa, pada setiap tahunnya pasti ada gempa yang mereka rasakan.
Irma Narulita mengaku bahwa belum semua warga banten teredukasi perihal bencana dan cara melakukan evakuasi.
“Ada sebagian masyarakat yang tidak teredukasi semua tidak tersosialisasikan semua itu mohon maaf,” kata Irma.
Bupati Pandeglang ini berharap bisa mendapat anggaran dari pemerintah provinsi dan juga pemerintah pusat untuk bisa mengedukasi warga secara merata.***

Share this article
Berdasarkan letak geografisnya, Banten menjadi wilayah yang mendapat ancaman adanya potensi gempa megathrust Selat Sunda.