AYOJAKARTA.COM - Menurut data Dinas Gulkarmat Provinsi DKI Jakarta, pada tahun 2023 terjadi 2286 kejadian kebakaran. Artinya dalam satu hari terjadi 6 insiden kebakaran di seluruh Jakarta.
Nah wilayah Jakarta mana yang paling sering mengalami kebakaran dan apa penyebab paling utamanya.
Dalam laporan akhir tahun, Dinas Gulkarmat Provinsi DKI Jakarta, membeberkan detil jumlah kejadian kebakaran.
Dari data tersebut Jakarta Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus kebakaran tertinggi sepanjang 2023 di DKI Jakarta. Jumlahnya mencapai 594 insiden.
Di urutan berikutnya adalah Jakarta Selatan 573 kejadian, Jakarta Barat 484 kejadian, Jakarta Utara 379 kejadian, dan Jakarta Pusat 256 kejadian.
Meskipun terdapat variasi jumlah kasus per wilayah, masalah utama yang menjadi penyebab kebakaran hampir seragam, terutama disebabkan oleh instalasi listrik yang buruk.
Laporan Gulkarmat mencatat faktor penyebab utama dari lebih dari separuh kebakaran di Jakarta ini sebanyak 1.216 kejadian.
Selain itu, kebiasaan membakar sampah, yang mencatat 337 kejadian, serta kebiasaan merokok sembarangan, turut menjadi penyebab signifikan kebakaran.
Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa kurangnya kepatuhan terhadap keselamatan serta penggunaan listrik yang tidak aman berkontribusi besar terhadap risiko kebakaran di Jakarta.
Situasi ini diperburuk oleh kondisi cuaca ekstrem yang terjadi pada musim kemarau 2023.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino yang terjadi pada pertengahan tahun membuat musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Fenomena ini juga diperparah oleh kondisi IOD Positif, yang menyebabkan suhu lingkungan semakin kering, meningkatkan risiko kebakaran pada bulan-bulan tersebut.
Data Gulkarmat menunjukkan bahwa jumlah kebakaran meningkat seiring dengan puncak musim kemarau ekstrem.
Pada Agustus, jumlah kebakaran meningkat tajam menjadi 243 kejadian.
Kenaikan ini terus berlanjut hingga mencapai puncaknya di bulan Oktober dengan 346 insiden kebakaran.
Setelah musim kemarau ekstrem berakhir di bulan November, angka kejadian kebakaran turun secara signifikan menjadi 173 insiden.
Data ini menunjukkan hubungan erat antara suhu kering dan risiko kebakaran.
Objek yang paling sering terbakar adalah bangunan perumahan, dengan jumlah 637 kejadian, diikuti oleh instalasi luar gedung dengan 480 kejadian.
Selain itu, kebakaran sampah yang dibiarkan di tempat terbuka juga mencatat 267 kasus, seringkali disebabkan oleh pembuangan puntung rokok yang masih menyala atau pembakaran yang tidak diawasi.
Baca Juga: Muda dan Ganteng! Ini Potret Wajah Jenderal Soedirman saat Pertama Kali Menginjakan Kaki di Jakarta
Untuk menekan jumlah kebakaran yang disebabkan oleh puntung rokok dan kebiasaan membakar sampah, pihak Gulkarmat mengimbau agar warga meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berada di lingkungan dengan risiko kebakaran tinggi.
Program edukasi kebakaran kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah guna meningkatkan kesadaran akan risiko yang ada di lingkungan sekitar.
Dengan langkah-langkah pencegahan dan peningkatan edukasi kepada masyarakat, diharapkan jumlah kasus kebakaran di DKI Jakarta dapat menurun secara signifikan di tahun-tahun mendatang.
Masyarakat diminta untuk lebih memahami dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran, tidak hanya bagi keselamatan pribadi tetapi juga bagi seluruh warga sekitar.
Share this article
Nah wilayah Jakarta mana yang paling sering mengalami kebakaran dan apa penyebab paling utamanya cek di sini