AYOJAKARTA.COM -- Lembaga riset berbasis Kecerdasan Buatan (AI), Deep Intelligence Research (DIR), baru saja merilis laporan tahunan bertajuk “Rapor Setahun Pemerintah Daerah Provinsi 2026”. Hasilnya cukup mengejutkan: Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, tampil sebagai figur yang paling mendominasi perhatian publik Indonesia selama satu tahun pertama masa jabatannya.
Riset komprehensif ini menganalisis pergerakan data dari 20 Februari 2025 hingga 19 Februari 2026. Dengan memadukan teknologi Media Intelligence dan Digital Listening, DIR memotret bagaimana para gubernur mengelola isu, merespons krisis, dan membangun interaksi dengan warga di tengah arus keterbukaan informasi yang semakin deras.
Deep Intelligence Research tidak main-main dalam menghimpun data. Mesin AI milik mereka melakukan pemindaian (crawling) terhadap lebih dari 1,88 juta pemberitaan di media siber, cetak, dan elektronik.
Di ranah media sosial, riset ini mencakup 4,57 juta percakapan yang tersebar di berbagai platform populer seperti TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, X (dahulu Twitter), hingga Threads.
Direktur Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menjelaskan bahwa satu tahun pertama merupakan fase penentu bagi seorang pemimpin untuk membentuk persepsi publik.
"Kami menerapkan metodologi Media Intelligence yang mengintegrasikan pemantauan media massa dan analisis percakapan digital guna mengukur tingkat legitimasi publik di masa transparansi informasi ini. Sistem kecerdasan buatan kami bekerja secara otomatis untuk menarik seluruh data pemberitaan serta diskusi masyarakat di media sosial mengenai para gubernur maupun pihak-pihak yang membicarakan mereka," ujar Neni dalam peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Minggu, 22 Februari 2026.
Laporan DIR mengidentifikasi tiga fokus utama yang menjadi magnet perhatian masyarakat selama setahun terakhir:
1. Program Strategis Nasional (Pendidikan)
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di hampir seluruh provinsi. Publik sangat antusias memantau bagaimana setiap gubernur mengeksekusi janji pusat ini di daerahnya masing-masing.
2. Ketangkasan Menghadapi Krisis
Respons para gubernur saat menghadapi bencana hidrometeorologi, seperti Banjir Besar di Sumatera dan Aceh pada November 2025, menjadi batu ujian kepemimpinan situasional.
3. Integritas dan Hukum
Isu korupsi masih menjadi faktor penekan performa. Penangkapan atau dugaan kasus hukum di wilayah seperti Jambi dan Riau merosotkan rating performa media gubernur hingga ke angka kritis 4/10.
Dalam kategori Highest Publication, Dedi Mulyadi tidak tertandingi. Gubernur Jawa Barat ini mencatatkan 194,4 ribu berita di media online, 16,1 ribu di media cetak, dan 4,6 ribu di media elektronik.
Narasi yang kuat mengenai kebijakan pro-rakyat, isu sosial yang humanis, serta konsolidasi wilayah yang intens menjadi penopang utama eksposurnya.
Di posisi kedua, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, membayangi dengan total 153 ribu berita online. Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa dari Jawa Timur menempati posisi ketiga dengan fokus narasi pada ekonomi syariah dan perlindungan sosial.
Namun, dominasi Dedi Mulyadi paling terlihat pada kategori Highest Engagement. Ia berhasil meraup total 4.256.465.957 engagement dengan jangkauan audiens mencapai lebih dari 25 miliar. Konten yang menampilkan pendekatannya kepada warga akar rumput menjadi magnet utama di TikTok dan YouTube.
"Hasil riset kami menunjukkan bahwa masyarakat menaruh perhatian dan ekspektasi yang sangat besar kepada para pemimpin daerah dalam mewujudkan janji kampanye serta kecepatan mereka menangani bencana. Total pemberitaan di media arus utama mencapai lebih dari 1,887 juta, sementara interaksi di media sosial menyentuh angka 5,624 miliar dengan total keterlibatan audiens sebanyak 33,798 miliar. Angka ini mencerminkan harapan publik yang luar biasa besar," tutur Neni.
Ada perbedaan mencolok antara sentimen di media massa dan media sosial. Media massa cenderung memberikan ruang sentimen positif hingga 79 persen. Namun, media sosial menjadi medan tempur yang lebih dinamis.
TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi sarana apresiasi terhadap konten-konten humanis dan kerja nyata. Sementara itu, X (Twitter) menjadi platform yang paling kritis terhadap kebijakan gubernur, meskipun memiliki tingkat engagement paling rendah dibanding platform video.
Merujuk pada pemikiran para ahli seperti Mike Walsh dan Rhenald Kasali, DIR menekankan bahwa gubernur masa kini tidak boleh hanya bekerja di belakang meja secara administratif. Mereka harus mampu membaca "emosi publik" yang tertuang dalam algoritma media sosial.
"Seorang gubernur di masa depan tidak boleh terpaku pada urusan administrasi saja. Mereka wajib merumuskan kebijakan yang solutif atas masalah di lapangan, cerdas membaca sentimen publik di media sosial, serta terampil mengomunikasikan kebijakan secara masif dan transparan. Sesuai pemikiran Rhenald Kasali, para pemimpin daerah harus berani mengganti asumsi lama dengan gagasan baru karena realitas saat ini menuntut adaptasi yang cepat terhadap perubahan," tegas Neni.
Laporan setahun pemerintahan gubernur tahun 2026 ini memberikan kesimpulan penting: legitimasi publik saat ini sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola narasi dan membaca percakapan warga.
Dedi Mulyadi sukses membuktikan diri sebagai pemimpin yang tidak hanya bekerja secara substansi, tetapi juga mampu mengelola perhatian publik secara efektif sebagai pusat gravitasi informasi.

Share this article
Riset DIR 2026: Dedi Mulyadi gubernur paling populer! Raup 4,2 Miliar engagement. Simak rapor kinerja dan popularitas gubernur Indonesia.