AYOJAKARTA.COM - Pakar militer dan analis geopolitik Connie Rahakundini Bakrie mengkritik arah diplomasi Indonesia yang dinilai mulai menjauh dari prinsip kemandirian dan semangat politik luar negeri bebas aktif.
Dalam percakapan di podcast milik Denny Sumargo, Connie menilai Indonesia berisiko kehilangan identitas diplomatiknya jika terlalu condong ke blok Barat.
Menurut wanita yang kini menjadi pakar militer tersebut, Indonesia seharusnya kembali pada fondasi historis yang pernah membuatnya dihormati dunia, yaitu semangat solidaritas negara berkembang yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung.
“Kalau harus dilakukan apa? Balik ke titik kemandirian, keberdikarian, dan spirit kita awal, yaitu Asia Africa Conference. Itu diakui dunia,” ujar Connie Rahakundini Bakrie.
Konferensi Asia Afrika yang berlangsung pada 18–24 April 1955 dihadiri oleh 29 negara Asia dan Afrika yang sebagian besar baru merdeka dari penjajahan.
Forum ini melahirkan prinsip solidaritas global yang dikenal sebagai Bandung Spirit, yang kemudian menginspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok pada 1961.
Dalam diskusi tersebut, Connie juga menyoroti posisi Indonesia dalam kerja sama internasional yang dinilai bisa mempersulit hubungan dengan negara-negara Global South.
Ia menilai Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terlihat terlalu dekat dengan kepentingan Barat, terutama di tengah dinamika geopolitik global.
Salah satu yang disorot oleh pakar militer berusia 61 tahun tersebut adalah potensi dilema posisi Indonesia di dalam BRICS, yang kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru dunia.
“Kalau kita terlalu Barat, kita sudah seperti mengkhianati spirit Bandung. Nanti di BRICS kita jadi salah tingkah,” kata Connie Rahakundini Bakrie.
BRICS sendiri merupakan blok ekonomi yang terdiri dari beberapa negara besar seperti China, Rusia, India, dan Brasil yang mewakili kekuatan ekonomi negara berkembang atau Global South.
Menurut Connie, blok tersebut kini menguasai sekitar 40 persen kekuatan ekonomi dunia.
Ia juga menyinggung perubahan orientasi geopolitik Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin yang semakin menjauh dari Eropa dan memperkuat kerja sama dengan Asia melalui inisiatif Greater Eurasia Partnership.
Dalam konteks ini, wanita kelahiran Bandung itu menilai beberapa negara di Asia Tenggara justru bergerak cepat memanfaatkan peluang tersebut.
Ia mencontohkan langkah diplomasi yang dilakukan oleh Anwar Ibrahim yang disebut aktif menjajaki kerja sama strategis dengan Rusia.
“Jangan salah, dari kawasan kita siapa yang paling cepat menyambar opportunity itu? Malaysia,” ungkap Connie Rahakundini Bakrie.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk memainkan peran strategis di berbagai blok kerja sama internasional.
Namun hal itu hanya bisa dilakukan jika Indonesia konsisten menjaga prinsip politik luar negeri yang mandiri dan tidak memihak.
Connie pun mengingatkan bahwa ketidaktegasan dalam menentukan posisi geopolitik bisa membuat Indonesia kehilangan kepercayaan dari negara-negara Global South.
“Kalau terlalu cepat ikut-ikutan blok tertentu, nanti kita malah diketok. Harusnya kita berhenti dulu, pikirkan baik-baik,” tegasnya.***

Share this article
Connie kritik diplomasi Indonesia yang dinilai terlalu condong ke Barat. Ia imbau kembali ke Bandung Spirit dan politik bebas aktif agar tetap disegani di blok BRICS serta kawasan Global South.