AYOJAKARTA.COM – Kondisi cuaca yang cenderung ekstrem di Indonesia beberapa waktu terakhir ini mulai meresahkan masyarakat.
Dalam beberapa waktu belakangan ini, berbagai wilayah Indonesia sempat mengalami cuaca panas yang cukup ekstrim.
Namun baru-baru ini, beberapa wilayah di Indonesia juga sudah mulai turun hujan meski intensitasnya masih sangat kecil.
Sementara itu, Erma Yulihastin selaku Peneliti Ahli Utama Bidang Klimatologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa tanda cuaca ekstrem ternyata bisa dikenali yaitu melalui awan.
Biasanya tanda-tanda cuaca ekstrim akan muncul dari beberapa bentuk awan seperti nimbostratus, altocumulus, dan juga cumulonimbus yang bisa dimonitor dari satelit.
“Awan nimbostratus umumnya biasa dikenali sebagai awan hujan atau awan mendung. Awan ini berwarna abu-abu yang merata dan terlihat beberapa waktu sebelum hujan turun,” jelas Erma dikutip dari Republika.co.id pada Kamis, 16 November 2023.
Baca Juga: Prakiraan Hujan Wilayah Jabodetabek 21-26 November 2023, Berpotensi Hujan Ringan di Kota Ini
Selanjutnya Erma kemudian menjelaskan tentang cuaca ekstrem yang bisa terjadi karena nilai unsur cuaca seperti suhu, angin, hujan, dan lainnya intensitasnya sangat tinggi atau rendah serta melebihi batas ambang tertentu.
Kemudian biasanya skala cuaca ekstrem dikenali melalui sifat, yakni tidak biasa atau tidak normal, lalu dari dampaknya yaitu luas atau parah.
Di sisi lain, BMKG mengungkap jika prakiraan musim hujan di Indonesia dari bulan November 2023 hingga Maret 2024 untuk wilayah Indonesia bagian Utara dan Tengah masih cenderung normal dan di atas normal.
Lalu untuk Indonesia bagian Selatan, hingga Februari 2024 nanti sifat hujannya masih cenderung di bawah normal.
Lebih detailnya lagi, beberapa wilayah Indonesia yang akan mengalami hujan dengan intensitas tinggi adalah berikut ini.
“Pada musim hujan, beberapa wilayah indonesia mengalami intensitas hujan tinggi, yaitu Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Papua,” jelas Plt Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani dikutip dari Republika.co.id pada Kamis, 16 November 2023.
Sebaliknya untuk berbagai wilayah Indonesia yang akan mengalami intensitas hujan rendah adalah berikut ini.
Yaitu Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, lalu Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan juga Sulawesi Selatan.
Andri Ramdhani juga menuturkan jika hasil monitoring ENSO Dasarian pada 1 November 2023 menunjukkan hasil sebagai berikut.
Indeks ENSO ada di angka+1.81, sementara untuk IOD sebesar +1.38, lalu IOD positif tersebut diprediksi akan bertahan hingga akhir tahun 2023.
Sementara itu, untuk El Nino Moderat diprediksi BMKG masih akan terjadi sampai bulan Februari tahun 2024 mendatang.
"Walaupun El Nino dapat mempengaruhi penurunan intensitas hujan pada musim hujan, tetapi potensi bencana hidrometeorologi, yaitu banjir, banjir bandang, dan longsor masih berpotensi tinggi terjadi," jelas dia.
Baca Juga: Jangan Sampai Nyesel: 5 Hal Penting yang Harus Kamu Lakukan agar Tidak Menyesal di Waktu Tua
Untuk itu, Andri Ramdhani merekomendasikan masyarakat untuk mitigasi bencana hidrometeorologi dengan cara-cara berikut ibi.
Melakukan perencanaan evakuasi yang terorganisir saat terjadi bencana hidrometeorologis, dengan mematuhi komando dari aparat pemerintah setempat,” kata dia.

Share this article
Cukup mengkhwatirkan, karena untuk El Nino Moderat diprediksi BMKG masih akan terjadi sampai bulan Februari 2024 mendatang.