AYOJAKARTA.COM - El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.
Adanya pemanasan SML ini mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik Tengah sehingga akan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.
Fenomena El Nino ini sering menjadi pemicu terjadinya kondisi kekeringan di wilayah Indonesia secara umum.
Eddy Hermawan yang merupakan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer mengungkapkan mengenai fenomena El Nino dalam paparannya.
Baca Juga: Hanya Rp 5000 Cobain Toilet Transparan di Jakarta, Bisa Mandi Pakai Air Hangat Lho!
Dalam penyampaiannya ia mengungkapkan mengenai Prospek El Nino dan Perkembangan Musim Kemarau 2023 serta menyampaikan risetnya berdasarkan hasil prediksi menggunakan model ESCO.
Ia mengatakan bahwa berdasarkan model prediksi ENSO dari April 2023 diperkirakan bahwa anomali SST Nino 3.4 meninggalkan batas normal dan diperkirakan antara bulan Mei, Juni dan Juli 2023.
"Berdasarkan model prediksi ENSO dari April 2023, diperkirakan anlomali SST Nino 3.4 meninggalkan batasan normal (netral) diatas 0.5 derajat diperkirakan akan terjadi antara Mei, Juni, Juli 2023,” ujar Eddy Hermayan dikutip AyoJakarta.com dari laman resmi BRIN, Senin (5/6/2023).
Menurutnya untuk bisa menentukan apakah musim kemarau tahun 2023 ini tergolong di atas, normal ataupun di bawah, periode kritis terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September 2023.
“Jika analisisnya hanya berbasis data SST Nino 3.4 saja, maka kita tidak akan tahu apabila musim kemarau tahun 2023 dimulai dan berakhir, termasuk durasinya agar dapat ditentukan apakah musim kemarau tahun ini tergolong di atas, normal atau di bawah normal. Periode kritis ini terjadi pada Juli, Agustus, September 2023," jelas Eddy Hermawan.
Dirinya mengatakan bahwa hal yang wajar jika hingga awal Mei 2023, di kawasan barat Indonesia masih dilanda hujan, mulai rendah bahkan beberapa kawasan relatif tinggi.
Ia juga menyampaikan bahwa musim kemarau di tahun 2023 masih tergolong normal jika dikaji dari durasinya memang hanya 3 sampai 4 bulan lamanya.
Namun dirinya berpesan agar tetap diwaspadai karena intensitas yang dihasilkan masih tergolong tinggi.
Baca Juga: Butuh Uang Cepat? Ini Tips agar Pinjol Cepat Di-ACC, Dijamin Anti Gagal dan Pinjaman Auto Cair
Fenomena El Nino dengan peluang 60 persen diprediksi akan terjadi pada periode Mei hingga Juli 2023 dan peluangnya meningkat menjadi 80 persen pada September 2023.
Lebih lanjut Eddy Hermawan menyampaikan jika asumsi musim kemarau 2023 terjadi interaksi antara SST Nino 3.4 dan IOD maka untuk periode Juli, Agustus dan September 2023 harus diwaspadai.
Hal ini dikarenakan periode tersebut merupakan periode terpanas dan dimungkinkan menyebabkan lonjakan suhu mengalami peningkatan.
"Walaupun tidak terindikasi bakal terjadi Kemarau Basah, namun musim basah (musim hujan) yang relatif lama durasinya perlu diwaspadai. Perlu dibangun satu Purwarupa yang secara online dapat menampilkan kondisi terkini status SST Nino 3.4 & IOD dalam bentuk format spatio-temporal," tutup Eddy Hermawan.***
Share this article
Indonesia waspada fenomena El Nino yang menyebabkan lonjakan suhu dan risiko kekeringan menguat di tahun 2023.