AYOJAKARTA.COM--Beredarnya rekaman video penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy membuat Menkopolhukam Mahfud MD ikut bersuara.
Menurut Mahfud MD terkait dengan rekaman video tersebut, penganiayaan tersebut tidak lain adalah sebuah bentuk kebiadaban.
“Kok ada orang yang begitu biadabnya, menghajar seseorang yang sudah tidak berdaya,” ujar Mahfud MD dalam sebuah siniar.
Lebih lanjut Mahfud menilai kebiadaban yang dilakukan juga diperparah dengan arogansi pelaku ketika melakukan penganiayaan.
Perilaku kasar dan tidak terkendali yang dilakukan oleh seorang yang masih tergolong remaja membuatnya sukar untuk mempercayai.
“Tidak terbayangkan, anak muda generasi muda masa depan bangsa, itu bisa muncul orang-orang seperti itu,” imbuhnya.
Menyikapi fenomena kekerasan yang banyak dilakukan oleh remaja, Mahfud MD menilai perlu dilakukan cara untuk menyelesaikan.
Belum lagi banyaknya problematika yang mencuat ke permukaan saat ini justru diakibatkan karena berita yang tidak benar atau hoaks.
Semua pihak, menurut Mahfud bertanggung jawab atas pentingnya melakukan langkah-langkah pencegahan atas dampak yang ditimbulkan dari kemudahan teknologi.
“Sekarang pemerintah menyadari hal itu, tetapi dalam situasi yang dilematis,” ujar Mahfud MD menjelaskan persoalan yang timbul karena pengaruh media sosial.
Pemerintah menyadari bahwa mengekspresikan sesuatu ke ranah media sosial merupakan hak setiap warga negara yang dijamin Undang-undang.
Namun demikian, pemerintah mengaku kesulitan untuk mengantisipasi dan menghalangi akibat-akibat yang timbul dari ekspresi tersebut.
“Oleh sebab itu, kita sekarang menyiapkan rancangan Undang-undang yang baru tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” jelas Mahfud MD.
Sayangnya, akibat rencana pembuatan undang-undang baru tersebut, persoalan yang timbul kemudian adalah perdebatan.
“Ini mau demokrasi atau tidak, nah ini selalu perdebatannya di politik, di DPR, di masyarakat, belum selesai,” terang Mahfud.
Lebih lanjut Mahfud menjelaskan bahwa upaya-upaya sistematis terus dilakukan oleh pemerintah guna menyelamatkan bangsa Indonesia.
“Kita ingin menyelamatkan bangsa ini dengan demokrasi yang berkeadaban, bebas ya bebas namun tetap beradab,” jelasnya.
Baca Juga: Sambil Tersedu, Sri Mulyani Sedih Kepercayaan Masyarakat Berkurang: Harus Diperbaiki!
Selain masalah keseimbangan antara hak dan kesadaran, Mahfud juga menemui persoalan lain di masyarakat, yakni maraknya akun-akun liar.
Terkait dengan banyaknya akun-akun liar di media sosial yang sering membuat keresahan di masyarakat, Mahfud memberikan bocoran.
“Akun atau media yang bisa dijangkau jika ada kendala, itu hanya ada 1000, sedangkan akun liar jumlahnya sampai 800 ribu,” ujar Mahfud.
Hal yang membahayakan dari banyaknya akun liar tersebut adalah bisa dengan mudah menyulut masalah, kemudian menghilang setelah melempar fitnah.
Demikian tanggapan Mahfud terkait dampak kabar hoaks seperti dikutip Ayojakarta dari kanal Youtube Merry Riana pada Jumat, 3 Maret 2023. ***

Share this article
Selain masalah keseimbangan antara hak dan kesadaran, Mahfud juga menemui persoalan lain di masyarakat, yakni maraknya akun-akun liar.