AYOJAKARTA.COM – Mendekati akhir tahun yang bertepatan dengan puncak perayaan Nataru, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta agar masyarakat tetap waspada.
Meski kondisi cuaca ekstrim saat puncak perayaan Nataru yang dikhawatirkan banyak kalangan diprediksi mengalami penurunan, BMKG memastikan tetap memiliki potensi.
Sebelumnya, Kepala BMKG memprediksi cuaca ekstrim akibat seruak udara dingin dari dataran tinggi Siberia akan berdampak hingga perayaan Nataru di Indonesia.
Dalam keterangannya, Dwikorita Karnawati menyebut kemunculan seruak udara dingin tersebut mengalami perubahan jelang akhir tahun 2024.
Akibat munculnya berbagai bibir siklon dan badai tropis yang ada di laut Cina Selatan, Dwikorita menjelaskan kondisi tersebut berdampak melemahnya seruak udara dingin.
“Sehingga Insya Allah di pergantian tahun cuaca lebih kondusif, meski masih terjadi hujan ringan, namun secara umum tidak mengkhawatirkan seperti tahun 2020,” ungkapnya.
Adapun wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas sedang saat puncak malam Nataru antara lain di sejumlah wilayah Sumatera.
Baca Juga: iPhone 16 Kanapa Gagal Rilis Januari 2025 di Indonesia? Ternyata Ini Alasannya
Sementara untuk wilayah Pulau Jawa, hujan ringan hingga sedang berpotensi akan terjadi di wilayah Serang, Jakarta, Bandung hingga Yogyakarta.
Kondisi cuaca serupa, menurut Dwikorita juga akan terjadi pada wilayah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara, Mataram, serta sebagian kota di pulau Sulawesi.
Meski diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, Kepala BMKG menghimbau untuk tetap bersikap waspada.
Selain Sulawesi bagian Utara, wilayah lain di Indonesia yang juga perlu mewaspadai potensi datangnya hujan lebat dan sangat lebat adalah Jawa bagian Timur.
Baca Juga: Legal! Daftar Harga iPhone 16 hingga iPhone 16 Pro Max yang Resmi di Indonesia
Sehubungan dengan adanya sejumlah bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, banjir dan longsor yang masih terjadi, Kepala BMKG memberi tanggapan.
Berdasarkan pada pergerakan fenomena yang terjadi di atas permukaan bumi, sejumlah penyebab potensi lahirnya cuaca ekstrim sudah mengalami pergeseran.
Selain melemahnya seruak udara dingin, Madden Julian Oscillation yang membawa awan-awan hujan hujan sudah berpindah arah.
“Beberapa fenomena yang mengkhawatirkan ini sudah berakhir atau melemah, namun yang kita waspadai kita sekarang memasuki puncak musim hujan,” tegas Kepala BMKG.
Transisi pergantian musim yang akan terjadi pada awal tahun 2025, menurut Kepala BMKG memiliki siklus menyerupai pelana.
Baca Juga: iPhone 16 Masih Jadi Misteri di Indonesia, malah Sudah Beredar Bocoran Desain iPhone 17!
Menjelang akhir tahun 2024, cuaca ekstrim akan mengalami penurunan dan akan kembali meningkat pada pertengahan awal tahun 2025.
“Awal tahun di Minggu kedua atau sepuluh hari pertama bulan Januari, kita perlu waspada lagi potensi cuaca ekstrim,” tegas Dwikorita.

Share this article
Dalam keterangannya, Dwikorita Karnawati menyebut kemunculan seruak udara dingin tersebut mengalami perubahan jelang akhir tahun 2024.