AYOJAKARTA.COM – Potensi gempa zona megathrust saat ini masih menjadi kekhawatiran masyarakat.
Pasalnya, tidak bisa diketahui kapan gempa zona megathrust dengan magnitude maksimal 8,9 itu akan terjadi.
Ketidakpastian kapan terjadinya gempa zona megathrust membuat pemerintah harus segera melakukan mitigasi baik kepada masyarakat umum maupun pesisir.
Pemerhati Manajemen Bencana, Prihadi mengatakan bahwa megathrust merupakan ‘barang lama’ akibat dari adanya pergeseran lepeng Indoaustralia yang melesak kebawah dan dari Indo Eurasia yang menumpuk.
Segmen megathrust Aceh Andaman sudah pernah melepaskan energinya pada 2004.
Sementara, segmen Mentawai-Siberut dan Selat Sunda tidak memperlihatkan pergerakan sejak lama.
Prihadi menyampaikan saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan mitigasi struktural dari alat untuk mendeteksi gempa.
Pada 2019 lalu, BMKG sudah memasang 173 alat pendeteksi gempa di berbagai daerah di Indonesia.
Saat ini, jumlah alat pendeteksi gempa yang sudah dipasang oleh BMKG berjumlah 560.
“Tapi kemudian adalah turunan-turunannya, bagaimana kemudian semua itu bisa diimplementasikan di masyarakat. Masyarakat juga masih harus sadar mereka tinggal di wilayah pesisir yang memang berpotensi tsunami. Makanya kemudian pemerintah juga membuat semacam kawasan rawan bencana,” kata Prihadi dikutip dari kanal YouTube Metro TV pada Senin (9/9/2024).
Prihadi mengungkapkan masyarakat yang berada di pesisir bisa mengetahui potensi bencananya seperti apa.
Bahkan, masyarakat juga bisa melihat kawasan bencana yang memang sudah disiapkan oleh pemerintah.
Selain mitigasi struktural, pemerintah juga telah melakukan mitigasi sosiokultural dengan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Pemerintah juga telah menyediakan berbagai pelatihan untuk menghadapi bencana akibat megathrust.
“Selain mitigasi struktural, juga ada mitigasi sosiokultural yang dilakukan BNPB dan BPBD. Itu yang juga masih harus dilakukan seperti melakukan tsunami ready community, kemudian juga pelatihan-pelatihan,” ungkapnya.***

Share this article
Selain mitigasi struktural, pemerintah juga telah melakukan mitigasi sosiokultural dengan melibatkan BNPB dan BPBD