AYOJAKARTA.COM – Berbagai permasalahan nasional di Indonesia yang saat ini terjadi, tidak lepas dari persoalan antara Jokowi dan rival politiknya di masa lalu.
Transisi kepemimpinan dari Jokowi beserta kebijakan-kebijakan di dalamnya kepada Prabowo, juga turut menjadi salah satu pencetus kesemrawutan yang kini berlangsung.
Menyadari situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto mulai melakukan berbagai upaya pembersihan yang timbul dari kebijakan Jokowi selama menjabat.
Baca Juga: PENTING! Lulus SNBT 2025? Ini Langkah Selanjutnya yang Wajib Diketahui Peserta
Pandangan terkait akar persoalan kebangsaan tersebut, merupakan pernyataan dari Staf Khusus Menteri ESDM periode 2014-2016 seperti dikutip ayojakarta.com dari YouTube Forum Keadilan TV.
Said Didu menilai sikap Presiden Prabowo sudah sejalan dan selaras dengan pernyataannya.
Selama 20 tahun berusaha menjadi Presiden, Said menyebut sudah mengetahui sejumlah persoalan mendasar yang harus segera ditangani.
Selain penegakan hukum dan pemberantasan kasus korupsi, Prabowo juga memiliki komitmen untuk menyapu bersih praktik-praktik mafia di Indonesia.
Tanpa dibekali kekuasaan yang mendapat dukungan dari rakyat, Said Didu menambahkan upaya Presiden Prabowo hanya akan menjadi slogan.
“Dia mengatakan, saya masuk politik dan ingin merebut kekuasaan dalam rangka mengembalikan ekonomi yang dikuasai oligarki kepada rakyat,” ungkapnya.
Baca Juga: Jadi Sorotan Dunia, Inilah 3 Momen Penting Seputar Kunjungan Presiden Emmanuel Macron di Indonesia
Disamping mengembalikan kekuatan ekonomi, Said Didu juga menyebut Prabowo akan mengembalikan mandat kepada rakyat.
Gagasan dan pemikiran brilian Prabowo tersebut, menurut pendapat Said justru perlahan bergeser usai mencetuskan politik keberlanjutan.
Karena itu, Said dan sejumlah pendukung Prabowo yang menemaninya di awal-awal memulai berpolitik berharap akan terjadi perubahan signifikan.
“Saya menganggap Prabowo sudah menjadi Presiden jika melaksanakan semua yang ia tulis dalam buku Paradoks Indonesia,” tegas Said.
Salah satu indikasi Prabowo benar-benar sudah kembali kepada jati dirinya yang dulu, menurut Said adalah jika melakukan perombakan kabinet.
Perombakan kabinet, menurut Said merupakan indikasi jelas bahwa prinsip keberlanjutan yang lekat dengan gagasan Jokowi sudah mulai ditanggalkan.
Bercermin pada sejarah politik di era paling kritis Indonesia pada tahun 1965 dan 1998, Said berharap Prabowo melakukan manuver yang sepadan.
Baca Juga: Ancaman Serius Generasi Muda, Ternyata Ini Alasan Moyamoya Bisa Meningkatkan Angka Penderita Stroke
Tanpa harus mengeliminasi secara pribadi, perubahan politik menurut Said perlu dilakukan dengan memangkas warisan kebijakan dari Presiden sebelumnya.
Warisan kebijakan politik atau dianalogikan sebagai Bubur Panas, menurut Said saat ini sedang disuguhkan kepada Prabowo Subianto.
Selain Bubur Panas Politik dan Bubur Panas Ekonomi, Prabowo Subianto juga harus berani menelan panasnya Bubur Hukum yang disuguhkan Presiden sebelumnya.
Untuk dapat menghabiskan seluruh menu tersebut, Said mengimani harus dilakukan dari bagian paling tepi sehingga tidak membuatnya melepuh.
“Kalau kita makan Bubur Panas, maka tidak boleh ngambil di tengahnya langsung karena lidah melepuh,” pungkasnya. ***
Share this article
Staf Khusus Menteri ESDM periode 2014-2016, Said Didu menilai sikap Presiden Prabowo sudah sejalan dan selaras dengan pernyataannya.