AYOJAKARTA.COM - Rana alias Piying salah satu saksi kunci dalam kasus Vina Cirebon mengaku mendapat intimidasi oleh tiga orang tidak dikenal.
Menurut pengakuan Piying, tiga orang itu mengaku aparat kepolisian dan memintanya untuk mengikuti perintah.
Tak hanya itu, ia juga mau dibawa aparat tersebut ke kantor untuk dimintai keterangan.
Piying atau Rana adalah saksi kunci yang mengetahui ketika Vina dan Eky bersama dua pengendara motor lainnya sedang berkelahi di Flyover Talun, Cirebon.
Ia ingat betul, kejadiannya tanggal 27 Agustus 2016 dan merupakan malam kejadian pembunuhan.
Tiga orang datang ke rumah Rana di Hari Jumat tanggal 27 April 2024 siang.
"Mereka meminta identitas saya dan bertanya-tanya tentang kejadian ketika peristiwa pembunuhan," katanya ketika dilansir Ayojakarta.com, Senin 1 Juli 2024.
Baca Juga: Tips Android: 2 Cara Sembunyikan Aplikasi di HP yang Harus Kamu Tahu!
Kebetulan sehari-hari Rana bekerja sebagai ojek. Jadi pertanyaan yang diajukan seputaran itu.
Seperti mulai ngojek jam berapa sampai jam berapa, sampai jembatan layang sekitar jam berapa.
"Nanya jam terus orangnya. Barangkali saja, pak. Saya itu mulai ngojek jam-nya pasti, 10.45 WIB dari rumah," ceritanya.
Rana selama ini disebut-sebut tahu peristiwa malam perkelahian antara Vina dan Eky bersama kedua pengendara sepeda motor lainnya.
Bahkan Rana mengaku sempat melerai perkelahian mereka sebelum meninggalkan lokasi kejadian.
Sampai saat ini kasus kematian Vina Dewi Arsita alias Vina Cirebon masih terus menjadi bahan perbincangan.
Apalagi setelah publik tahu, jika ayah Eky adalah seorang aparat juga. Ayah Eky juga terus berupaya agar kasus ini bisa segera tuntas.
Di satu sisi pengacara Pegi Setiawan hendak melakukan langkah hukum dengan melaporkan ayah Eky yang dinilai melakukan perintangan penyidikan.
Itu karena hingga saat ini rekaman pengawas atau CCTV dalam kasus ini belum juga dibuka.
Kuasa hukum Pegi menganggap, ayah Eky mengetahui keberadaan CCTV tersebut beserta isinya.***

Share this article
Saksi kunci dalam kasus pembunuhan Vina Cirebn di tahun 2016 silam mengaku mendapatkan tindakan intimidasi dari 3 oknum yang mengaku aparat.