AYOJAKARTA.COM -- Seniman, Butet Kartarejasa menyebut ada tindakan seseorang yang melakukan pengkhianatan secara terang-terangan.
Meskipun dalam norma-norma umum, pengkhianatan biasanya dilakukan dengan cara-cara yang lebih tersembunyi, namun kali ini pengkhianatan tersebut terang benderang, tanpa malu-malu.
Butet menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pengkhianatan kepada rakyat dan partai pendukungnya.
"Normalnya orang itu kalau mau berkhianat sembunyi sembunyi karena punya rasa malu supaya tidak ketahuan, lah kok ini menghianati rakyat, mengkhianati partai pengusungnya, menghianati ibu ketua partai secara gamblang, terang benderang tanpa malu," ucap Butet Kartarejasa dikutip ayojakarta sar channel Youtube Kaisar TV pada Selasa (13/2/2024).
Baca Juga: Rekomendasi 3 Jurusan Kuliah Cocok untuk Gen Z, Lulusannya Punya Pilihan Karier yang Keren!
Meski survei-survei menunjukkan tingkat kepuasan masih tinggi terhadap dirinya, Butet menyebut bahwa survei tersebut mungkin saja dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu.
"Survei itu yang bikinnya orang bayaran. kalau survei paling tinggi ngapain minta tolong sultan Jogja untuk memediasi, menengahi bertemu dengan Megawati," ungkapnya.
Dengan demikian, kata Butet, hal itu sebagai tanda bahwa ada ketidakpastian terkait hasil pemilihan yang akan datang.
"Yang dilakukan dia itu berarti sedang panik yang diharapkan dia tidak betul betul terwujud," ujarnya.
Butet juga menunjukkan bahwa hasil pemilihan di luar negeri yang mayoritas mendukung pasangan calon nomor 03 sebagai tanda awal bahwa pemilihan mungkin tidak akan berlangsung hanya dalam satu putaran.
Oleh karena itu, kata Butet, orang tersebut membangun rekonsiliasi di tengah situasi yang mungkin memunculkan kehilangan kepercayaan diri.
Baca Juga: Resmi Jadi Calon Suami Ayu Ting Ting, Muhammad Fardhana: Sumpah Aku Nggak Pernah DM Dia “Halo Dek”
"Kalau tidak kehilangan kepercayaan diri ngapain seorang presiden bagi bagi sembako di depan istana," katanya
Begitu juga dengan pihak kepolisian yang seharusnya menjaga ketertiban umum, namun mendorong civitas akademika dan dosen untuk memuji presiden.
Hal itu menurut Butet menunjukkan situasi yang mungkin penuh dengan kepanikan dan kehilangan kepercayaan diri.
"Itukan konyol sekali, Polisi yang tugasnya menjaga ketertiban umum kok sekarang mendorong dorong civitas akademika, rektor untuk memuji muji presidennya. Berarti memang ada situasi panik, situasi kehilangan kepercayaan diri," tegasnya.
Dengan demikian, pernyataan Butet Kartarejasa menyoroti situasi politik yang kompleks dan mendalam, serta menegaskan pentingnya membangun rekonsiliasi dan menghindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan kepercayaan publik.***

Share this article
Seniman, Butet Kartarejasa menyebut ada tindakan seseorang yang melakukan pengkhianatan secara terang-terangan, sindir Jokowi?