AYOJAKARTA.COM -- Ketua Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran, Burhanuddin Abdullah, mengungkapkan detil program makan siang dan susu gratis yang direncanakan dalam program pemerintahan Prabowo-Gibran.
Abdullah menjelaskan bahwa program tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, terutama anak-anak, balita, pesantren, dan ibu hamil.
Menurut Abdullah, dalam program tersebut, setiap penerima akan diberikan makan siang dan susu gratis dengan biaya sekitar 1 dolar per hari.
Baca Juga: Ahok Sebut Jokowi Tak Bisa Kerja, Jubir TKN Prabowo-Gibran: Cuma Jago Omon-omon dan Bikin Gaduh
Jumlah penerima mencapai 82,9 juta orang, yang terbagi menjadi 44 juta anak-anak SD, SMP, dan SMA, 30 juta balita, 5 juta pesantren, dan 3 juta ibu hamil.
"Dengan jumlah penerima sebanyak itu, berarti kita perlu anggaran sekitar Rp1 triliun per hari untuk menjalankan program ini," ujar Abdullah, dikutip dari Youtube Kompas TV, Kamis 8 Februari 2024. .
"Jadi dalam setahun, total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 300 triliun," lanjutnya.
Abdullah menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen Prabowo-Gibran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan.
Dia juga menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam menangani isu-isu sosial dan kesejahteraan.
Pernyataan Abdullah ini menjadi sorotan, mengundang beragam tanggapan dari berbagai pihak.
Misalnya akun X, @ebe_ganzo mengatakan program perbaikan gizi ini tak masuk akal
"Ini namanya program ngedabrus kawan, Rp 1.000.000.000.000 ÷ 82.900.000= Rp12.062/anak, pertanyaan perbaikan gizi model apa dengan uang Rp12.062," tulisnya pada 7 Februari.
Sementara sebagian kalangan khawatir dana ini berpotensi di sunat sana-sini, sehingga anggaran yang diterima semakin kecil.
"Belum lagi kalo dikorupsi dr pusat, provinsi, kabupaten, desa... Sampe ke anak tinggal nasi + kerupuk.." tulis akun @Hery_JBU.
Share this article
TKN Prabowo anggarkan Rp1 triliun per hari untuk makan siang gratis harga Rp12 ribuan bagi 82,9 juta penerima, beneran perbaikan gizi?