AYOJAKARTA.COM - Sebuah film dokumenter yang baru saja rilis pada Minggu (11/2/2024) di awal masa tenang kampanye Pemilu 2024 berjudul ‘Dirty Vote’ memang saat ini tengah ramai diperbincangkan.
Bahkan nama film dokumenter ‘Dirty Vote’ ini berhasil bertengger menjadi trending di platform media sosial X (dulunya Twitter) yang mana film ini ramai mendapatkan beragam komentar baik yang pro maupun kontra.
Pasalnya film dokumenter Dirty Vote ini rupanya mengangkat sejumlah isu adanya kecurangan pada Pemilu 2024 yang disampaikan oleh tiga ahli tata negara yakni Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.
Baca Juga: Film Dirty Vote Bongkar Syarat Pemilu dan Capres Menang 1 Putaran
Namun banyak yang melihatnya bahwa film Dirty Vote ini justru menyudutkan salah satu paslon serta menjelekkan nama Presiden Jokowi.
Disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono film ini berhasil membuat polemik dan kontroversi yang cukup menghebohkan di masa tenang kampanye.
Beberapa perwakilan capres cawapres hingga tokoh politik Indonesia turut mengomentari film ini seperti salah satunya Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.
Baca Juga: Hasto Beri Tanggapan soal Pj Bupati Sorong yang Disinggung di Film Dirty Vote
Melalui akun Instagram resminya @m.lutfi, Muhammad Lutfi menyampaikan tanggapannya yang cukup pedas mengenai film Dirty Vote ini.
Dalam postingannya, Muhammad Lutfi menjelaskan bahwa apakah Dirty Vote ini benar-benar sebuah film dokumenter atau justru kampanye terselubung di masa tenang kampanye.
“Kita semua tahu setiap mendekati pemilu banyak informasi yang berseliweran di sosial media. Baru-baru ini ada film dokumenter baru bernama ‘Dirty Vote’ karya Dandhy Laksono,” kata Muhammad Lutfi seperti dikutip dari akun Instagramnya @m.lutfi.
“Sebelum kita terbawa arus, saya mau kita bersama-sama cermati fakta-faktanya,” lanjutnya.
Mantan Menteri Perdagangan RI ini kemudian menjelaskan opininya melihat fenomena film dokumenter Dirty Vote yang rilis bertepatan dengan h-3 menjelang Pemilu 2024.
“Dikenal dengan karya-karyanya yang dirilis menjelang pemilu, Dandhy Laksono seolah-olah punya agenda terselubung,” ujar Lutfi.
Dandhy yang memang sebelumnya keras mengkritik pemerintah di berbagai bidang, sebelumnya juga pernah membuat film dokumenter berjudul ‘Sexy Killer’ jelang Pemilu 2019 lalu.
“Kritik keras tentang reklamasi malah yang dikritiknya yang menjalankannya. Sexy Killer pun ditunjukkan untuk meng-attack pak Jokowi tapi apa dampaknya, Dandhy mencoba riding wave kasus 212 dengan Rayuan Pulau Palsu,” ucapnya.
“Dan lagi-lagi menyerang Pak Jokowi lewat Sexy Killer, tetapi bukannya kritik yang membangun malah opini yang dipaksakan,” terang Lutfi.
Melihat film Dirty Vote ini, Lutfi justru lebih menganggapnya sebagai sebuah kampanye terselubung.
“Dan sekarang ‘Dirty Vote’ sebuah film yang kabarnya punya echo opini salah satu paslon, bukannya dokumenter, ini lebih mirip kampanye terselubung ya kelihatannya!” tegasnya.
Apalagi dengan melihat para pemain pendukung film ini menurut Lutfi sudah mengarahkan dukungannya ke salah satu paslon capres cawapres.
“Bukti menunjukkan jelas elemen film ini mulai dari krunya hingga sutradaranya terang-terangan mendukung salah satu paslon,” katanya.
“Berlaga sebagai aktivis yang ingin berbicara tentang negara, padahal mereka mendukung paslon tertentu. Ini bukan pendidikan, melainkan propaganda terang-terangan untuk menjelekkan nama presiden kita!” tegas Lutfi lagi.
Baca Juga: Respons Rocky Gerung Soal Film Dirty Vote: Dokumenter Ini Bukan Sekadar Olokan atau Pembelaan
Lutfi pun sebelum menutup videonya, dia memberikan pesan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati menerima informasi yang mengklaim sebagai aktivis pejuang negara namun nyatanya tetap mendukung paslon lain.
“Berhati-hatilah dengan yang mengklaim sebagai aktivis, namun sejatinya pendukung capres lain,” pesan Lutfi.***

Share this article
Mantan Mendag Muhammad Lutfi menyebut jika rilisnya film dokumenter Dirty Vote merupakan bentuk propaganda.