AYOJAKARTA.COM - Ketua RW di kampung tempat tinggal para terpidana kasus Vina-Eki, Basari, mengungkapkan keyakinannya bahwa Sudirman, salah satu terpidana, tidak terlibat dalam kasus tersebut.
Menurut Basari, Sudirman adalah anak yang taat beragama dan rajin sholat berjamaah.
"Saya jujur warga asli, saya pribumi di kampung ini. Setiap hari saya tahu kepribadiannya. Dirman itu benar-benar anak yang taat, patuh, setiap salat waktunya tepat dan selalu berjamaah. Musala itu kebetulan posisinya di sebelah utara warung saya. Posisi rumah Dirman di sebelah selatan warung saya dan dia selalu lewat di depan warung saya," ujar Basari.
Baca Juga: Edukasi Psikologi: Pernah Ketemu Over-Explainer, Ini Penjelasan Psikolog!
Basari menambahkan bahwa dirinya selalu melihat Sudirman ketika ia pergi ke musala.
"Jadi, begitu mendengar anak-anak ditangkap polisi, waktu itu memang saya dengar dari warga yang hajatan. Bahkan ada salah satu warga menyampaikan ke saya, 'Pak RW, denger enggak anak-anak pada ditangkapin polisi?' Saat itu saya baru mendengar bahwa anak-anak itu ditangkap. Katanya terlibat geng motor. Enggak mungkin mereka bergabung geng motor, saya yakin enggak mungkin karena setiap hari anak-anak itu selalu beli rokok, beli jajan di warung saya," katanya.
Menurut Basari, Sudirman selalu mengikuti waktu sholat berjamaah dari Zuhur hingga Maghrib di musala.
"Dirman itu dari Zuhur, Asar, Maghrib selalu salat berjamaah di musala. Kalau ketemu sih tiap hari ketemu karena warung saya itu tempat mereka jajan beli rokok. Setelah Dirman ke musala, saya tutup warung dan pulang karena saya juga berjamaah. Jadi, untuk malam harinya saya enggak tahu," katanya.
Basari juga menjelaskan bahwa pada periode 2014-2017, dia tidak menjabat sebagai Ketua RW sehingga tidak dilibatkan dalam urusan kepolisian terkait kasus tersebut.
"Saya yakin sekali mereka bukan geng motor karena kondisi ekonominya menengah ke bawah. Bagaimana bisa beli motor? Wong saya tahu ada yang enggak punya motor. Bahkan kalau jajan pun uangnya receh. Kasihan, kalau sampai bahasa membunuh memperkosa, Masya Allah saya nangis saat itu. Enggak percaya sama sekali, apalagi lihat Dirman itu taat banget anaknya, masa sekejam itu."
Pernyataan Basari memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari Sudirman yang penuh dengan aktivitas keagamaan dan kesederhanaan.
Hal ini memperkuat keyakinannya bahwa Sudirman tidak mungkin terlibat dalam tindakan kriminal seperti pembunuhan dan pemerkosaan yang dituduhkan.
Baca Juga: Peluang 'Duet Maut' PKS dan PDIP Berkoalisi di Pilgub Jakarta 2024, Siapa yang Akan Diusung?
Dia berharap keadilan dapat ditegakkan dan kebenaran segera terungkap.
Iptu Rudiana Dilaporkan ke Polisi
Selain Basari, tim kuasa hukum Saka Tatal, salah satu terpidana dalam kasus pembunuhan Vina dan Eki yang telah bebas, melaporkan Iptu Rudiana, ayah dari Eki, ke Mapolres Cirebon Kota.
Laporan ini terkait dugaan rekayasa dalam pengungkapan kasus pembunuhan yang terjadi pada tahun 2016 silam.
Farhat Abbas, yang memimpin tim kuasa hukum Saka Tatal, menyatakan bahwa Iptu Rudiana telah melakukan sejumlah rekayasa dalam penyelidikan kasus tersebut.
Abbas menyoroti banyak kejanggalan, termasuk dugaan manipulasi keterangan mengenai penyebab kematian Vina dan Eki.
"Penyebab kematian yang dilaporkan pada saat itu adalah akibat tusukan Samurai. Namun, berdasarkan informasi terbaru, penyebab kematian sebenarnya adalah benturan di kepala," jelas Abbas.
Hal ini menimbulkan keraguan terhadap keabsahan keterangan yang diberikan oleh Rudiana pada saat penyelidikan awal.
Kasus ini akan terus dipantau oleh berbagai pihak, mengingat seriusnya tuduhan yang dilayangkan dan dampaknya terhadap kepercayaan publik terhadap proses hukum di Indonesia.***

Share this article
Ketua RW di kampung tempat tinggal para terpidana kasus Vina-Eki, Basari, mengungkapkan keyakinannya soal terpidana Sudirman...