AYOJAKARTA.COM – Penutupan Selat Hormuz, menjadi salah satu opsi yang bisa dilakukan Iran pasca penyerangan oleh Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir miliknya.
Selain terus melanjutkan serangan ke Israel atau menyerang pangkalan militer milik Amerika di Timur Tengah, opsi lain yang dimiliki Iran adalah keluar dari Anggota NPT.
Terkait dengan keempat opsi tersebut, langkah yang jelas sudah ditempuh dan masih dilakukan Iran adalah dengan terus menggempur pertahanan Israel.
Meski akan berdampak kepada kawasan Asia, penutupan Selat Hormuz secara signifikan dapat mempengaruhi persediaan minyak dunia.
Pernyataan terkait opsi yang dimiliki Iran dalam serangan ke Israel tersebut, merupakan pandangan Faisal Assegaf selaku Pengamat Timur Tengah.
Menurut Faisal, pola yang dilakukan oleh Amerika dalam konflik Iran-Israel sama persis dengan yang dilakukannya pada Perang Irak.
Dugaan adanya kebocoran pada fasilitas nuklir milik Iran sebagaimana dituduhkan oleh Amerika, faktanya hingga hari ini belum ditemukan.
Baca Juga: Kim Jong Un Ngamuk! Korea Utara Kecam Serangan AS ke Iran, Pertanda Bakal Turun Tangan?
Serupa dengan dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal yang sempat dituduhkan ke Irak pada tahun 2003, langkah Amerika justru mendapat reaksi keras dari Iran.
“Serangan ke Iran sama yang dilakukan saat menjatuhkan rezim Saddam Hussein, Amerika berbohong soal senjata pemusnah massal,” ujar Faisal.
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan oleh sejumlah Ahli dari berbagai Organisasi, propaganda Amerika atas Iran terkait senjata nuklir tidak terbukti.
Karena itu langkah pemerintahan Iran untuk menutup Selat Hormuz, diperkirakan akan menjadi salah satu upaya menekan dunia internasional.
Baca Juga: Resmi Dibuka! Cek Link Pendaftaran SPMB Jakarta 2025 Tahap 2, Lengkap dengan Cara Daftar Online
Untuk memastikan pergerakan perang, hingga saat ini pemerintahan Iran masih menunggu keputusan dari Ali Khomeini yang merupakan Pemimpin Tertinggi.
Menurut Faisal, serangan tentara Amerika Serikat ke wilayah Iran justru sudah menjadi bumerang bagi negara Amerika.
Adanya kontra produktif, bukan hanya terjadi di kawasan regional Timur Tengah, tetapi juga di dalam negeri Amerika Serikat.
Selain tentara militer yang kini mendapat tekanan, dampak serangan tersebut juga telah berpengaruh kepada seluruh kalangan sipil Amerika Serikat.
Baca Juga: SPMB Jakarta 2025 Tahap 2 Resmi Dibuka, Ini Cara Pilih Sekolah dan Jadwal Lengkapnya
“Serangan ini kontraproduktif, karena memang tidak disetujui oleh rakyat Amerika sendiri dan tidak ada persetujuan dari Kongres,” imbuh Faisal.
Menjelang serangan ke Iran, sebagaimana telah diketahui publik Presiden Donald Trump sudah berulang kali menjadi sasaran aksi demonstrasi.
Desakan untuk menghentikan serangan dan terlibat langsung dalam perang Iran-Israel, selain datang dari warga Amerika juga sudah merambah ke sejumlah dunia.
“Kalau warga Amerika yang waras kan akan berpikir, ngapain perang buat negara lain,” pungkas Faisal dikutip Ayojakarta dari YouTube Metro TV. ***

Share this article
Iran punya opsi balas serangan AS: tutup Selat Hormuz, keluar NPT, atau serang Israel/pangkalan AS. Serangan AS kontraproduktif.