AYOJAKARTA.COM – Kasus penyiraman terhadap mantan Anggota Polisi dan Penyidik KPK Novel Baswedan, bukan merupakan suatu peristiwa acak.
Upaya yang dilakukan Novel Baswedan menemui Kapolri saat itu hingga berujung penyiraman dengan air keras, ditengarai merupakan sebuah bagian dari rencana besar.
Upaya menyingkirkan Novel Baswedan dan orang-orang dengan integritas di KPK, juga ditengarai menjadi tahapan dalam upaya pengendalian.
Pernyataan terkait gejala awal penyebab melemahnya KPK sebagai institusi yang independen, merupakan pandangan Saut Situmorang.
Disampaikan saat menjadi narasumber di sebuah siniar, Saut yang merupakan mantan Anggota BIN berpendapat badai di dalam institusi KPK belum sepenuhnya reda.
Berdasarkan pengamatannya sebagai mantan Anggota intelijen, Ketua KPK Periode 2015-2019 ini berkeyakinan tidak ada sesuatu yang kebetulan.
Variabel-variabel yang terjadi seputar penyiraman terhadap Novel dan perkembangan KPK, menurut Saut bisa jadi merupakan bagian dari sebuah rencana.
Beragam upaya yang terindikasi pelemahan terhadap KPK, menurut Saut sudah berulang kali sempat mendapat tanggapan dari para Petinggi KPK.
Meski telah melakukan upaya perlawanan, kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan menjadi pukulan telak bagi para
Baca Juga: Jadwal Tayang 'Confidence Queen', Park Min Young Membongkar Kejahatan Koruptor Kelas Kakap
Pertemuan Novel Baswedan dengan Tito Karnavian pada tanggal 3, perusakan CCTV di tanggal 7 dan penyiraman air keras pada tanggal 11 April 2017, menurut Saut itu bukan perkara biasa.
Dampak dari peristiwa kelam bagi para Pejuang KPK yang masih terbilang samar tersebut, menurut Saut menjadi awal melemahnya KPK.
“Tanggal 3 ke 7 ke 11, itu pola, nggak ada sesuatu yang kebetulan di bumi ini,” ujar Saut terkait pola peristiwa menjelang penyiraman.
Meski motif pelaku penyiraman terhadap Novel masih belum sepenuhnya terungkap, Saut mengimani karena kemampuannya membangun semangat Tim yang solid.
Rangkaian insiden kecil yang sempat dialami oleh Novel sebelum peristiwa penyiraman, sempat mendapat tanggapan dari Ketua KPK.
Namun tawaran mitigasi yang diberikan, menurut Saut justru ditolak oleh Novel karena tidak ingin mendapat perhatian khusus.
Perlakuan tidak manusiawi yang sempat dialami Novel Baswedan, menurut Saut bisa menjadi pencetus kebijakan bagi Presiden Prabowo agar KPK kembali ke fitrahnya.
Baca Juga: BTN Genjot Ekonomi Lewat KPR Subsidi, Hidupkan 185 Sub Sektor
Salah satu upaya sederhana yang dapat dilakukan Presiden adalah dengan mulai menanamkan nilai-nilai mengenai Anti Korupsi.
Tidak sekedar berhenti pada tataran frasa, Presiden Prabowo saat ini menurut Saut memiliki kesempatan besar untuk bisa membuktikan seluruh nilai dan integritasnya.
“Prabowo harus melakukan serangan terhadap korupsi,” pungkas Saut dikutip Ayojakarta dari Forum Keadilan TV. ***

Share this article
Perlakuan tidak manusiawi yang sempat dialami Novel Baswedan, menurut Saut bisa menjadi pencetus kebijakan bagi Presiden Prabowo