AYOJAKARTA.COM – RA Kartini, seorang tokoh emansipasi wanita yang terkenal, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara.
Sosok tokoh yang resmi menjadi Tokoh Pahlawan Nasional ini merupakan putri tertua dari 11 bersaudara keluarga ningrat Jawa atau sering dikenal dengan keluarga priyayi atau bangsawan.
Dikutip melalui laman sma13smg.sch.id, diketahui keturunan keluarga RA Kartini terbukti cerdas. Bahkan kakek dari RA Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati pada usia 25 tahun.
Sebagai perempuan Jawa, RA Kartini merasakan ketimpangan sosial antara laki-laki dan perempuan pada zaman itu.
Baca Juga: 10 Ucapan Hari Kartini pada 21 April 2023 yang Bisa Kamu Kirim ke Medsos
Namun, ia memperjuangkan kesetaraan hak perempuan dan menjadi salah satu tokoh emansipasi wanita terkenal. Atas jasanya, RA Kartini diberikan predikat Pahlawan Nasional Indonesia melalui keputusan RI No. 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964.
Pengamat Sejarah, Edy Tegoeh Joelijanto, mengatakan bahwa RA Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di bidang pendidikan.
Kartini muda hanya mendapatkan pendidikan hingga 12 tahun, yang mana adalah pendidikan dasar. Hal ini karena perempuan tidak boleh mendapatkan pendidikan tinggi dan hanya bangsawan saja yang bisa mengakses pendidikan.
Europe Legere School, menjadi saksi bisa Kartini muda menjadi mahir berbahasa Belanda dengan semangat yang tinggi.
Baca Juga: 7 Film Tentang Kemerdekaan Indonesia untuk Rayakan 17 Agustusan, Ada Merah Putih hingga Kartini
Sayangnya, setelah menempuh pendidikan dasar Kartini muda harus berhenti sekolah, ia harus dipingit karena akan menikah.
Namun, Kartini muda dengan semangatnya sering bertukar informasi dengan temannya di Belanda melalui surat menyurat.
Mahir berbahasa Belanda membuat sosok Kartini terinspirasi ingin memajukan pribumi seperti kemajuan Eropa pada saat itu.
RA Kartini menikah dan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Soesalit Djojoadhiningrat pada tanggal 13 September 1904.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Kisah Dua Perempuan Menjemput Kesejahteraan Melalui Warung Kelontong
Namun, tepat empat hari setelah melahirkan, RA Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904 pada usia 25 tahun. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.
Perjuangan RA Kartini ditunjukkan melalui tulisannya yang dimuat pada majalah perempuan Belanda bernama De Holandsche Leile.
Dalam surat yang dimuat di koran/majalah tersebut, RA Kartini menyatakan keprihatinan nasib bangsa Indonesia dibawah kondisi pemerintahan Kolonial. Selain itu nasib wanita yang lebih rendah dibandingkan laki-laki pada saat itu.
Surat-surat tersebut kemudian dibukukan dan diterjemahkan dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang".***
Share this article
RA Kartini, seorang tokoh emansipasi wanita yang terkenal, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara.