AYOJAKARTA.COM- Aktivis senior Irma Hutabarat ikut merespon tuntutan hukum yang diberikan JPU kepada Richard Eliezer dimana hukuman tersebut 4 tahun lebih tinggi dari Putri Candrawathi, Ricky Rizal dan Kuat Maruf.
Hal tersebut disampaikan oleh Aktivis Irma Hutabarat bersama Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu dalam video yang diunggah di kanal YouTube Irma Hutabarat-Horas Inang berjudul "Jaksa Silap! Tuntutan Jaksa Merusak Moral Bangsa" yang diunggah pada Kamis (3/2).
Pertama Irma mengatakan bahwa kata pemberani itu merupakan suatu kata yang sangat hangat diperbincangkan netizen terkait kasus Richard Eliezer.
Lantas Irma pun menanyakan tentang bagaimana kondisi Richard Eliezer terkait duplik atau pembelaan terakhir nya sebagai terdakwa pada Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Edwin Partogi Pasaribu.
Dalam hal ini Edwin bercerita bahwa pada hari malam sebelum sidang pembacaan duplik, Richard Eliezer tidak bisa tidur karena kecewa atas kejujurannya yang tidak dihargai.
"Tadi Icad ketika saya tiba di PN Jaksel lagi tidur dianya. Saya tanya, kenapa tidur?, lalu ia menjawab semalam enggak bisa tidur pak. Kenapa dia enggak bisa tidur? Ternyata sejak mendengar tuntutan itu, jam metabolisme tubuhnya itu berubah," kata Edwin.
"Ada anxiety dianya?, "tanya Irma
Menurut Edwin, saat ini pola tidur Richard berubah. Dia tidur pada siang hari, sementara malam hari kerap kali tidak bisa memejamkan mata.
Ia juga berpendapat bahwa kejujuran Richard membuat polisi berpangkat Bhayangkara 2 itu lepas dan lega. Karena, semua keterangannya dinilai jujur oleh publik, Richard mempunyai pendukung dari sekelompok perempuan yang dari berbagai usia.
"Richard sangat tahu banyak yang mendukung. Ya kan kita bisa menyaksikan setiap Icad di sidang ya itu sebagian besar pendukungnya perempuan. Dan kalau saya perhatikan, kalau disebut dengan emak-emak enggak pas juga, itu beragam. Ada yang masih muda, masih kuliah," kata Edwin.
Edwin juga melihat ada 2 orang mahasiswi dengan jas almamater berbeda terus menatap Richard yang di dalam sel PN Jaksel. Menurutnya, ini adalah hal yang unik karena 2 mahasiswa itu terus tersenyum saat menatap Richard.
Sepanjang pengalaman Edwin, ia belum pernah melihat terdakwa pembunuhan di Indonesia yang menjadi idola. Dia yakin ini adalah yang pertama kali di Indonesia.
"Saya belum pernah lihat ada tersangka terdakwa pembunuhan menjadi idola," kata Edwin.
Pasalnya cerita ini ia hanya mendengar dari negeri orang saja. Namun di Indonesia hal tersebut baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah.
Selanjutnya Edwin juga mengundang pendukung Richard Eliezer ke kantor LPSK untuk bisa mengetahui apa alasan yang sebenarnya membuat mereka simpati terhadap mantan ajudan Ferdy Sambo ini ternyata hanya satu yaitu kejujuran dari Richard Eliezer.
Irma juga menjelaskan bahwa kejujuran tersebut merupakan suatu nilai yang tumbuh dalam masyarakat yang didukung banyak orang dan membuat hati tergerak karena kejujuran seorang Eliezer.
Kemudian Edwin mengatakan ketika kejujuran itu hadir lewat tersangka pembunuhan merupakan sesuatu hal yang dirindukan oleh banyak orang.
"Oase di padang pasir, " kata Irma menyambung ucapan Edwin yang dikutip dalam youtube Irma Hutabarat Official, Jumat (3/2).
"Seperti bulan Purnama yang terang, " jelas Edwin.
Tak hanya itu, kejujuran Richard Eliezer itu sebagai oase di padang pasir serta seperti hujan di musim kemarau jika melihat keberanian, pengakuan dosa atau mengakui kesalahan serta pertobatan yang dilakukan oleh mantan ajudan Sambo tersebut.
Irma menilai bahwa ada empat hal yang bisa kita pelajari dari seorang Richard Eliezer yang mana ada pertobatan, penyesalan, kejujuran serta keberanian yang dimilikinya ini sangatlah indah yang membuat semua orang mendukung tunangan Ling-ling ini untuk dibebaskan dari hukum pidana.

Share this article
Aktivis Irma Hutabarat bersama Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban LPSK Edwin Partogi Pasaribu bahas tuntutan Richard Eliezer