TEBET, AYOJAKARTA - Setelah 1,5 tahun belajar di rumah akibat pandemi Covid-19, jutaan anak akan kembali ke ruang kelas. Sementara banyak orang tua senang untuk kembali ke rasa normal, varian delta, gelombang pilek, dan infeksi pernapasan umum yang menyebar melalui sekolah juga menyebabkan rasa cemas.
Dokter anak di Northbrook, Illinois, AS, Natalya Vernovsky mengungkapkan ada tiga pertanyaan yang sering diajukan orang tua menjelang pembelajaran secara tatap muka. Berikut penjelasannya, dilansir Insider, Kamis (2/9):
1. Covid-19 atau pilek?
Covid-19 dapat muncul pada anak-anak dengan berbagai gejala, yang sebagian besar identik dengan selesma, termasuk demam ringan, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, batuk, dan masalah pencernaan. Seorang anak dapat memiliki kombinasi gejala apa pun atau malah tidak sama sekali.
Hilangnya kemampuan indra pengecap dan penciuman tidak biasa terjadi pada anak-anak, terutama yang lebih muda. Sebagian besar orang tua ingin mengetahui satu hal spesifik yang dapat membedakan Covid-19 dengan selesma atau infeksi saluran pernapasan atas lainnya. Persoalannya, jarang ada perbedaan gejalanya.
Selesma alias pilek akan berlangsung sekitar tujuh sampai 10 hari. Anak bisa pulih lebih cepat jika terhidrasinya terjaga, mendapatkan vitamin dan mineral yang tepat, dan cukup tidur.
Satu-satunya gejala unik yang terlihat pada beberapa anak dan remaja dengan Covid-19 adalah "Covid toes", yakni lesi kulit seperti memar, terutama pada jari kaki.
"Ini agak jarang, dan tidak adanya penampakan 'jari kaki Covid' tidak mengesampingkan diagnosis positif," ujar Dr. Vernovsky.
2. Kapan anak harus dites Covid-19?
Ketika tertular SARS-CoV-2, anak-anak bisa jadi tidak mengembangkan gejala. Itu menjadi penyulit kala menentukan waktu terbaik anak dites Covid-19.
Apakah di rumah ada anggota keluarga yang berisiko tinggi, seperti mereka yang mengalami gangguan kekebalan tubuh atau lansia? Nanti, ketika anak kembali bersekolah, berolahraga, atau telah melakukan kegiatan lain yang memerlukan interaksi sosial, mereka harus menjalani tes Covid-19.
3. Apa yang harus dilakukan jika anak dinyatakan positif Covid-19?
Jika seorang anak dites positif, penyedia layanan kesehatan bisa saja menganggap semua orang di rumah juga positif. Meskipun itu tidak selalu benar, setiap orang harus dites dan dikarantina bersama dengan anak tersebut.
Tidak ada perawatan yang disetujui untuk Covid-19 pada anak-anak selain tindakan kenyamanan sederhana seperti istirahat dan minum cairan agar tetap terhidrasi. Perhatikan dan beri tahu dokter anak Anda kalau melihat buah hati menderita penyakit yang lebih serius yang disebabkan oleh Covid-19.
Sindrom peradangan multisistem pada anak (MIS-C) merupakan kondisi langka yang dapat muncul ketika anak positif Covid-19. Kondisi itu ditandai dengan gangguan pernapasan mendadak, nyeri dada akut, demam tinggi, sesak napas, dan sakit perut yang parah.
Secara keseluruhan, pesan terbesar yang dimiliki dokter anak untuk orang tua adalah untuk fokus pada pencegahan Covid-19. Mengenakan masker dan vaksinasi adalah dua tindakan terpenting yang dapat mencegah penyebaran.
Lanjutkan upaya menjaga kebersihan yang baik seperti sering mencuci tangan. Sebab, itu sangat penting untuk mencegah segala jenis penyakit, bahkan flu biasa atau pilek.

Share this article
Dokter Jawab 3 Pertanyaan yang sering diajukan orantua Soal Anak Kembali ke Sekolah Ketika Covid-19 Masih Membayangi