AYO BACA : Ayo Media Network Terbitkan Aturan Work from Home bagi KaryawanAYO BACA : Lima Virus yang Harus Diwaspadai Selain Corona
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Menjadi orang tua baru menjadi sebuah kebahagiaan sekaligus tantangan bagi seorang ayah dan ibu. Namun, ada juga resiko yang harus dihadapi usai persalinan atau postpartum. Tak sedikit, ibu mengalami depresi saat persalinan pertama. Namun, ayah juga berpotensi mengalami depresi, terutama saat dihadapkan pada masalah ekonomi.
Pria mungkin tidak mengalami perubahan hormon seperti perempuan setelah melahirkan buah hati mereka, namun faktor lain seperti kurangnya dukungan atau tekanan finansial dapat berdampak pada kesehatan mental sang ayah.
Dilansir Insider, diperkirakan 4% hingga 25% pada ayah baru mengalami depresi pascapersalinan dalam dua bulan pertama setelah kelahiran anak mereka.
Dana Dorfman , PhD, seorang psikoterapis asal New York mengatakan setiap transisi besar dalam kehidupan, seperti menjadi orangtua, dapat berperan dalam pengembangan gangguan suasana hati.
"Bagi pria, ada perasaan kehilangan dan perubahan besar dalam arti diri sendiri," kata Dorfman.
Faktor risikonya termasuk tingkat stres yang tinggi, merasa diasingkan oleh pasangan, kurangnya pendukung, dan riwayat kesehatan mental.
Depresi pascapersalinan yang dialami sang ibu juga dapat menjadi faktornya. Pria dengan pasangan yang mengalami depresi pascapersalinan 2,5 kali lebih mungkin mengalami depresi pada saat bayi mereka berusia enam minggu.
"Laki-laki cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan seringkali dukungan emosional mereka berasal dari pasangan mereka, yang kemungkinan besar juga akan kewalahan dan sibuk," kata Dorfman.
AYO BACA : Tes Urine Negatif, Vanessa Angel Dipulangkan
Share this article
JAKARTA, AYOJAKARTA.COM - Menjadi orang tua baru menjadi sebuah kebahagiaan sekaligus tantangan bagi seorang ayah dan ibu. Namun, ada juga resiko yang harus dihadapi usai persalinan atau postpartum. Tak sedikit, ibu mengalami depresi saat persalinan pertama. Namun, ayah juga berpotensi mengalami depresi, terutama saat dihadapkan pada masalah ekonomi.