AYOJAKARTA.COM – Taman Safari Indonesia (TSI) memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap mantan pemain Oriental Circus Indonesia (OCI).
Isu ini mengemuka setelah sejumlah eks pekerja sirkus OCI Taman Safari Indonesia melaporkan pengalaman pahit yang mereka alami kepada Kementerian Hukum dan HAM.
Dalam aduan tersebut, para mantan pemain sirkus mengungkap dugaan kekerasan dan eksploitasi yang mereka alami selama berada di bawah pengawasan OCI.
Beberapa di antaranya bahkan menuturkan pengalaman traumatis yang mereka anggap sebagai bentuk perbudakan modern.
Salah satu mantan pemain, Ida, menceritakan bahwa dirinya pernah jatuh dari ketinggian saat tampil di Lampung.
Ia mengaku tidak segera mendapatkan pertolongan medis, dan baru dibawa ke rumah sakit setelah menahan rasa sakit selama berhari-hari.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya patah tulang yang memerlukan tindakan operasi.
Kesaksian lebih memilukan datang dari Butet, mantan pemain lainnya, yang mengaku pernah dirantai, dipukuli, bahkan dipaksa menelan kotoran gajah sebagai bentuk hukuman.
Ia juga mengaku dipaksa tampil meski tengah mengandung dan akhirnya dipisahkan dari bayinya.
Ironisnya, Butet mengaku tidak mengetahui identitas dirinya sendiri, termasuk nama asli dan asal-usul keluarganya.
Putri kandung Butet, Fifi, juga turut bersuara. Ia mengungkap bahwa dirinya pernah melarikan diri, namun kembali ditangkap dan mengalami penyiksaan yang lebih parah, mulai dari penyetruman hingga dipasung.
Semua tindakan tersebut, menurut Wakil Menteri HAM Mugiyanto, merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak dasar manusia, termasuk penghilangan identitas.
Kemenkumham dan DPR Minta Kasus Diusut Tuntas
Menyikapi laporan tersebut, Kementerian Hukum dan HAM menyatakan akan segera memanggil manajemen Taman Safari indonesia guna meminta klarifikasi lebih lanjut.
Di sisi lain, Komisi III DPR RI juga telah angkat suara. Anggota Komisi III, Abdullah, meminta Mabes Polri turun tangan dan menindak tegas siapapun yang terbukti melakukan eksploitasi.
“Kejahatan seperti ini tidak boleh dibiarkan," ujarnya.
Jawaban Taman Safari Indonesia
Menanggapi tuduhan tersebut, dikutip ayojakarta.com dari berbagai sumber pihak Taman Safari Indonesia dengan tegas membantah keterlibatan mereka.
Tony Sumampau, salah satu pendiri TSI, menilai bahwa pemberitaan tersebut tidak akurat dan mencemarkan nama baik perusahaan.
“Ini tidak ada kaitan dengan Taman Safari, kok dibawa-bawa. Sirkus dan Taman Safari itu entitas berbeda,” ujar Tony.
Tony juga mengklaim bahwa anak-anak yang disebut sebagai korban telah dibesarkan oleh pihaknya sejak bayi.
Ia menyatakan bahwa anak-anak tersebut diambil dari lingkungan rawan, seperti kawasan prostitusi Kalijodo di Jakarta, dan dibesarkan dengan perhatian serta pengasuhan yang layak.
“Kami membesarkan mereka sejak bayi, dengan bantuan suster. Itu bukan hal mudah,” ujarnya.
Baca Juga: 7 HP Realme Terbaik 2025 dari 2 Jutaan hingga Flagship dengan Teknologi Sony LYT-808
Ia menambahkan bahwa Komnas HAM pernah menyatakan bahwa langkah TSI menampung anak-anak tersebut sudah sesuai prosedur, merujuk pada kasus serupa yang terjadi pada tahun 1997.
Melalui pernyataan tertulis, Head of Media and Digital TSI, Finky Santika Nh, juga menegaskan bahwa TSI secara institusional tidak memiliki hubungan hukum atau bisnis dengan eks pemain sirkus OCI.
“Taman Safari Indonesia Group ingin menegaskan bahwa kami tidak memiliki keterkaitan, hubungan bisnis, maupun keterlibatan hukum dengan eks pemain sirkus yang dimaksud,” ujarnya.
Kasus dugaan eksploitasi ini membuka kembali diskusi publik mengenai etika pertunjukan hiburan di Indonesia, khususnya dalam industri sirkus.
Banyak pihak menyerukan perlunya reformasi dan pengawasan ketat terhadap praktik kerja di sektor hiburan, guna memastikan tidak ada lagi pelanggaran HAM yang luput dari perhatian.***

Share this article
Taman Safari Indonesia (TSI) memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap mantan pemain OCI