AYOJAKARTA.COM - Kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh dokter residen di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mendapat sorotan dari berbagai kalangan, termasuk ahli psikologi dan kriminologi.
Hanifa, seorang pakar kriminologi yang diwawancarai dalam program 'Apa Kabar Indonesia Pagi', menganalisis bahwa kasus ini menunjukkan adanya karakter kriminal yang telah terbangun pada diri pelaku.
"Ini kan berarti ada karir kriminal seseorang yang sudah mengedukasi dirinya untuk melakukan kejahatan dengan kemampuan yang ada, dengan kesempatan yang dia punya, dengan status yang dia punya pula sehingga dia bisa memilih korbannya," ujar Hanifa.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi tindakan pelaku, antara lain kondisi psikologis individu, kemungkinan adanya penyimpangan seksual, lemahnya pengawasan di rumah sakit, kurangnya pengendalian diri, serta pemanfaatan ketimpangan kekuasaan antara dokter dan pasien.
Hanifa juga menekankan bahwa modus operandi pelaku yang sudah terencana dengan jelas, meliputi tempus (waktu), lokus (tempat), dan aktus (cara bertindak) menunjukkan bahwa kejahatan ini bukan spontanitas tetapi sudah dipelajari dengan matang.
Sementara itu, Dr. Nasar, seorang dokter yang juga hadir dalam diskusi tersebut, menyoroti pentingnya etika dalam profesi kedokteran.
Ia menjelaskan bahwa sejatinya seorang dokter, terlebih spesialis anestesi, mendapatkan pendidikan etika secara gradual sejak awal masuk pendidikan kedokteran.
"Etikanya yang diberikan sejak dari awal dia masuk itu secara gradual, itu selalu diberikan. Dan paling terakhir setiap dia mengajukan mutasi profesinya itu dilakukan oleh MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) dari level bawah," jelas Dr. Nasar.
Ia juga mengungkapkan keheranannya bagaimana pelaku yang merupakan dokter anestesi—profesi yang menurutnya "di atas sedikit di atas bedah" karena tingkat kesulitan dan tanggung jawabnya—bisa melakukan tindakan tercela tersebut.
"Kok bisa dia mengkoleksi obat? Itu urusan farmasi. Ada pengawasannya, tidak bisa obat ini untuk si A habis selesai... kalau ada sisanya dia akan kembali," ungkap Dr. Nasar yang juga mempertanyakan sistem pengawasan obat di rumah sakit.
Baca Juga: 4 Jenis Tanaman Akar yang Jarang Dilirik tapi Kaya Manfaat untuk Kesehatan
Ia menyarankan agar rumah sakit tidak berlepas tangan dan perlu membenahi sistem pengawasannya yang dinilai lengah.
Dari diskusi tersebut juga terungkap kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus ini.
Hanifa menjelaskan konsep 'differential association' dalam kriminologi, di mana pelaku kejahatan biasanya mempelajari teknik-teknik dan cara melakukan kejahatan dari interaksi dengan orang lain.
"Sebetulnya kejahatan itu kan dipelajari, 'differential association'. Dia mempelajari dari siapa? Dia mempelajari kalau 'aku mau melakukan pencabulan dengan cara ini, aku harus berhubungan dengan siapa, berhubungan dengan siapa, bagaimana caranya, punya kompanyon siapa'," ungkap Hanifa.
Ia juga menyebutkan bahwa pelaku yang merupakan dokter dan mahasiswa spesialis tentunya adalah orang pintar yang telah melakukan pembelajaran yang panjang untuk sampai di titik ini, sehingga kemungkinan ada banyak pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung.
Baca Juga: 5 Jenis Makanan dan Minuman Penyebab Sembelit, Nomor 4 Sering Diabaikan!
Meskipun informasi resmi dari kepolisian menyebut hanya ada satu pelaku dengan tiga korban, Hanifa tidak menutup kemungkinan adanya pelaku lain atau pihak yang ikut membantu, walaupun mereka mungkin tidak mengetahui tujuan sebenarnya dari pelaku utama.

Share this article
Pelaku kejahatan biasanya mempelajari teknik-teknik dan cara melakukan kejahatan dari interaksi dengan orang lain.