AYOJAKARTA.COM - Kebijakan pemerintah terkait penempatan dana Rp200 triliun di bank Himbara (BRI, Mandiri, BTN, dan BNI) kembali menjadi sorotan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut langkah ini bertujuan menekan biaya bunga deposito, agar likuiditas bank lebih longgar, sehingga sektor riil bisa bergerak. Namun, kebijakan tersebut justru menuai protes dari pengacara kondang Hotman Paris.
Melalui unggahannya di Instagram pada Jumat, 26 September 2025, Ferry Irwandi mencoba memberikan penjelasan sederhana “pakai bahasa bayi” agar publik lebih mudah memahami.
Menurutnya, dana Rp200 triliun yang disebut Purbaya bersumber dari SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran), yaitu kelebihan kas negara yang tidak terpakai di tahun berjalan.
Ferry bahkan menuliskan contoh sederhana: “Bayangin APBN target pendapatan Rp2,5 triliun dan belanja Rp3 triliun, berarti defisit Rp500 triliun. Nah kalau realisasinya pendapatan Rp2,6 triliun dan belanja Rp2,9 triliun, defisit nyata cuma Rp300 triliun. Jadi ada sisa Rp200 triliun, itulah yang disebut SILPA,” jelas Ferry.
Ia juga menegaskan bahwa penempatan dana ini tidak akan menimbulkan inflasi berlebihan. “Ingat, duit ini saldo mengendap, bukan cetakan duit baru, jadi risiko inflasinya juga nggak massive,” tulisnya.
Menurut Ferry, dengan dana pemerintah masuk ke bank Himbara, suplai likuiditas naik, bunga deposito turun, dan akhirnya bunga kredit usaha bisa lebih rendah.
Baca Juga: EMC 2025 Kembali Digelar, Hadir di 72 Test Center dari Aceh hingga Papua dan Diikuti Ribuan Peserta
Di sisi lain, Hotman Paris mengaku dirugikan karena bunga deposito miliknya ikut terpangkas. Hotman pun memberikan masukan kepada Menkeu Purbaya agar dana Rp200 triliun lebih diarahkan ke program nyata untuk masyarakat, misalnya kredit padat karya.
Purbaya sendiri tak menampik bahwa penurunan bunga deposito adalah efek yang memang diinginkan. Ia menyebutkan, semakin banyak dana beredar, semakin besar peluang ekonomi bergerak.
“Kalau belanja kan ekonomi jalan. Atau dia bagi-bagi ke orang, ekonomi jalan. Emang itu tujuannya,” katanya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi September 2025, di Jakarta, Senin (22/9/2025).
Perdebatan ini memperlihatkan dua sisi dari kebijakan fiskal. Di satu sisi, pemerintah ingin mendorong ekonomi lewat likuiditas perbankan. Di sisi lain, nasabah deposito menilai kebijakan ini merugikan simpanan mereka.***
Baca Juga: Ada Program Sekolah Gratis? Raperda Penyelenggaraan Pendidikan Sudah Diberikan ke Bapemperda

Share this article
Ferry Irwandi jelaskan dengan “bahasa bayi” soal dana Rp200 T yang digeser Purbaya ke Himbara. Hotman Paris protes karena bunga deposito turun, meski tujuan pemerintah dorong ekonomi.