AYOJAKARTA.COM -- Fenomena harga bahan pangan yang melonjak menjelang pemilu kembali menjadi topik hangat. Harga beras masih terus mengalami kenaikan di berbagai daerah.
Cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab petani yang merugi karena gagal panen. Harga bahan pokok seperti beras mengalami kenaikan harga di banyak wilayah.
Banyak warga mengeluhkan kenaikan harga beras di sejumlah wilayah. Dikutip Ayojakarta.com dari Youtube Metro TV pada Jumat (9/2) di Nusa Tenggara Timur contohnya, harga beras melambung hingga mencapai Rp 16 ribu per kilogram.
Baca Juga: MAAF! Bansos Beras 10 kg Dihentikan Pemerintah untuk Sementara Waktu, Kapan Dicairkan Lagi?
Begitu pula di Sulawesi Selatan, harga beras melonjak cukup tinggi menjadi Rp 15 ribu per kilo akibat dampak kemarau panjang pada tahun kemarin, ditambah saat ini musim penghujan sehingga banjir merendam area persawahan.
Tidak hanya beras yang harganya melejit, beberapa komoditi lain seperti telur ayam, cabai, jahe, dan lainnya juga mengalami kenaikan signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras pada dua pekan sebelum pemilu 2024 terdapat di 179 kabupaten/kota dibanding pekan sebelumnya yang hanya ada di 142 kabupaten.
Kepala BPS, Amalia Adininggar mengatakan harga beras yang mengalami kenaikan saat ini dipengaruhi oleh ketersediaan beras yang minim bila dibandingkan dengan kebutuhan.
“Kalau kita lihat surplus beras mulai akan terjadi pada Maret 2024, sedangkan tahun lalu surplus beras sudah mulai terjadi pada Februari (2023),” katanya dikutip dari Republika.co.id.
Pedagang mengaku bahwa harga pangan yang meroket membuat daya beli masyarakat menurun sehingga berdampak pada penurunan omzet.
Kenaikan harga yang melejit ini membuat pembeli mengeluh karena harga yang terus meningkat. Masyarakat berharap kepada Pemerintah untuk menstabilkan harga beras saat ini.

Share this article
Harga beras masih terus mengalami kenaikan di berbagai daerah jelang Pemilu. Apa penyebab sebenarnya?