AYOJAKARTA.COM - Apakah manusia pada dasarnya baik atau jahat? Pertanyaan ini telah membingungkan para filsuf dan ilmuwan selama berabad-abad.
Menurut dokter Jiemi di akun TikTok pribadinya @jiemiadrian, di bidang psikiatri dan psikologi, perspektif tentang sifat manusia sangat beragam.
Sigmund Freud, seorang psikoanalis terkenal, percaya bahwa pikiran manusia dipenuhi dengan dorongan dan keinginan negatif, menunjukkan sifat yang lebih gelap.
Menurut Freud, pikiran sadar kita dipengaruhi oleh dorongan-dorongan mendasar, yang seringkali meresahkan, yang perlu dilawan.
Sebaliknya, pemikir seperti Carl Rogers dan Carl Jung menawarkan pandangan yang lebih positif.
Mereka berpendapat bahwa kesadaran kita pada dasarnya tidak didorong oleh dorongan-dorongan gelap.
Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai sumber potensi dan kekuatan, yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebaikan yang melekat yang mungkin tidak selalu terlihat di permukaan.
Baca Juga: Mau Lolos Jalur Mandiri UNESA 2024? Pilih 10 Jurusan S1 Sepi Peminat, Paling Sedikit 26 Pendaftar!
Kebenarannya mungkin terletak di antara kedua perspektif ini.
Meskipun benar bahwa beberapa individu menunjukkan perilaku berbahaya atau aneh, ada kemungkinan juga bahwa tindakan tersebut berasal dari rasa sakit mereka yang mendalam.
Memahami rasa sakit ini tidak membenarkan perilaku berbahaya namun dapat membantu menjelaskannya.
Pada inti kita, ada bagian dari diri kita yang tetap tidak tersentuh oleh gejolak pengalaman kita—diri yang murni dan sadar.
Baca Juga: 16 Fakta Menarik Orang Introvert Ketika Jatuh Cinta, Jadi Lebih Sensitif Salah Satunya Loh!
Diri batin ini dapat diakses melalui perhatian, sebuah praktik yang mendorong kita untuk duduk dengan pikiran dan emosi tanpa menghakimi.
Dengan melakukan hal ini, kita dapat menemukan rasa damai dan menyadari bahwa di balik perjuangan kita, terdapat diri yang kokoh dan tidak berubah, yang pada dasarnya baik dan sadar.
Dalam bidang konseling dan psikoterapi, terdapat peningkatan fokus pada kesadaran diri yang tidak berubah ini.
Pendekatan ini menekankan bahwa terlepas dari kekurangan dan penderitaan kita, ada bagian dari diri kita yang tetap utuh, autentik, dan penuh kasih sayang.
Dengan terhubung kembali dengan aspek diri kita ini, kita berpotensi menjalani kehidupan yang lebih memuaskan.
Kesimpulannya, meskipun perilaku manusia terkadang tampak jahat, penting untuk mengenali kebaikan yang lebih dalam, dan sering kali tersembunyi, di dalam diri kita.
Dengan memahami dan memanfaatkan kesadaran yang melekat ini, kita mungkin menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.***

Share this article
Begini penjelasan menurut psikiater terkait apakah manusia asinya itu baik atau jahat, cek ulasan lengkapnya berikut.