AYOJAKARTA.COM -- Belakangan generasi Z sering menjadi sorotan media sosial terkait gangguan kesehatan mental atau gangguan kejiwaan.
Mengapa generasi Z rentan terhadap masalah kejiwaan? Simak penjelasan Dokter Andri yang merupakan spesialis kedokteran jiwa.
Generasi Z merupakan orang yang lahir pada tahun kelahiran antara 1997 sampai 2012 yang dikenal dengan sebutan zoomer.
Dilansir AyoJakarta.com dari video YouTube Andri Psikosomatik yang diunggah 25 Januari 2024, berikut 6 alasan gen Z mudah alami kejiwaan:
1. Tekanan akademis dan prestasi
Generasi Z sering kali menghadapi tekanan akademis yang tinggi. Persaingan untuk meraih prestasi di sekolah dan universitas dapat memberikan beban pikiran yang besar bagi mereka.
Tekanan untuk berhasil dalam ujian, tugas, dan ujian masuk perguruan tinggi dapat menyebabkan stres yang berlebihan.
Baca Juga: Tips Hilangkan Iklan Mengganggu di HP Android, Cukup Lakukan 2 Cara Ini
2. Teknologi dan media sosial
Teknologi dan media sosial memiliki peran besar dalam kehidupan Generasi Z yang kini semakin merajalela.
Meskipun teknologi telah membawa kemajuan yang luar biasa, penggunaan yang berlebihan dan interaksi yang tidak sehat di media sosial dapat berdampak negatif pada kesehatan mental.
Perbandingan diri, cyberbullying, dan penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan depresi dan kecemasan.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Ingin Menguji Kejelian Mata Kamu? Coba Temukan Sebuah Kunci di Antara Mobil Ini
3. Isolasi sosial dan kurangnya koneksi emosional
Interaksi yang terjadi melalui dunia maya tidak dapat menggantikan hubungan sosial yang nyata. Kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko gangguan jiwa.
4. Ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan
Generasi Z dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
Kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang stabil dan masa depan yang tidak pasti dapat menyebabkan stres dan kecemasan.
5. Stigma terhadap kesehatan mental
Meskipun semakin banyak kesadaran tentang kesehatan mental, stigma masih menjadi hambatan besar bagi Generasi Z untuk mencari bantuan.
Rasa malu dan ketakutan akan dijauhi oleh orang lain sering kali menghambat mereka untuk mencari perawatan yang mereka butuhkan.
6. Akses terbatas terhadap layanan kesehatan mental
Terakhir, akses terbatas terhadap layanan kesehatan mental juga merupakan masalah yang dihadapi oleh Generasi Z.
Faktor - faktor seperti biaya, lokasi, dan stigma dapat membuat sulit bagi mereka untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Dengan memahami faktor ini, kita dapat mulai mengambil langkah untuk membantu Generasi Z menghadapi tantangan kesehatan mental yang mereka hadapi.
Dukungan sosial, pendidikan tentang kesehatan mental, dan akses yang lebih baik ke layanan kesehatan mental adalah langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.***

Share this article
Belakangan generasi Z sering menjadi sorotan media sosial terkait gangguan kesehatan mental atau gangguan kejiwaan.