AYOJAKARTA.COM - Dalam acara pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Sofia Gudono pada Sabtu, 10 Desember 2022 silam, terlihat Erina menggunakan riasan khas adat Jawa, yaitu paes ageng Yogyakarta.
Paras Erina yang ayu melambangkan kecantikan wanita jawa, ditambah dengan riasan paes ageng Yogyakarta, membuat Erina tampil begitu mempesona di hari bahagianya.
Bicara mengenai riasan paes, secara umum dikenal dua macam paes, yaitu paes Solo dan Yogyakarta. Masing-masing memiliki ciri khas dan makna yang berbeda.
Kali ini tim AyoJakarta akan membahas tentang Paes Yogyakarta (Jogja).
Pada zaman dulu, busana dan tata rias paes ageng Jogja hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja.
Sekitar tahun 1940, Sultan Hamengku Buwono IX dengan prinsipnya “tahta untuk rakyat” mengijinkan masyarakat umum untuk memakai busana dan tata rias ini dalam upacara pernikahan.
Sejak saat itulah riasan paes ageng mulai banyak digunakan.
Riasan paes memiliki tujuan utama yaitu untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka.
Hal ini dipercaya dapat membuat pengantin terlihat semakin cantik dan bercahaya.
Setiap atribut atau hiasan dalam riasan paes ini juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan setelah menikah.
Baca Juga: Informasi Gempa Bumi Hari Ini 13 Desember 2022 , Total 6 Gempa terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia
Berikut penjelasan mengenai filosofi yang terkandung dari setiap atribut riasan paes pada pengantin wanita:
1. Cunduk Mentul
Cunduk mentul adalah atribut yang letaknya di kepala yang menjulang tinggi ke atas. Cunduk mentul biasanya terdiri dari lima sampai tujuh bulatan.
Namun sebenarnya cunduk mentul dapat berjumlah 1, 3, 5, 7 atau 9.
Cunduk mentul yang jumlahnya satu sebagai simbol atas keesaan Tuhan.
Jumlah tiga sebagai simbol trimurti.
Jika jumlahnya lima, adalah simbol rukun Islam.
Jumlah tujuh mensimbolkan “pitulungan” atau pertolongan dalam bahasa jawa, diambil dari kata dasar pitu atau tujuh.
Terbanyak berjumlah sembilan, sebagai simbol walisongo.
Selain itu, cunduk mentul seharusnya dipasang menghadap belakang. Sebagai simbol bahwa perempuan harus cantik saat terlihat dari depan maupun belakang.
Baca Juga: Sesar Cugenang Terdeteksi, 1.800 Rumah Berdiri d Atas Zona Bahaya
2. Gunungan
Gunungan berbentuk seperti gunung dan diletakkan di kepala.
Simbol atau filosofi gunung dipercaya oleh masyarakat terdahulu sebagai tempat yang sakral dan tempat bernaungnya para dewa.
Simbol ini diletakkan di kepala perempuan menandakan bahwa perempuan harus juga dihormati oleh suaminya.
3. Centhung
Centhung mensimbolkan gerbang kehidupan.
Centhung memiliki bentuk seperti gerbang yang memiliki dua sisi, yaitu kanan dan kiri.
Filosofi dari centhung adalah perempuan harus siap untuk memasuki gerbang baru dalam kehidupannya.
Perempuan harus siap masuk memasuki kehidupan dalam rumah tangga dan memerankan diri sebagai seorang istri.
4. Paes Prada
Paes Prada merupakan riasan pada pengantin yang dibuat di kening pengantin wanita, memiliki
bentuk garis lengkung dan biasanya berwarna hitam.
Terdapat satu lengkungan besar yang dibuat di tengah, dan diapit oleh lengkungan-lengkungan kecil.
Lengkungan yang besar adalah simbol kebesaran Tuhan.
Sedangkan lengkungan yang kecil disebut pengapit, sebagai filosofi bahwa seorang istri harus siap menjadi penyeimbang dalam rumah tangga.
5. Citak
Citak dilukis di tengah kening seperti riasan India.
Citak berada tepat di tengah-tengah, sebagai simbol bahwa seorang wanita harus fokus, berpandangan lurus ke depan, dan setia.
6. Alis Menjangan
Alis menjangan memiliki bentuk alis yang bercabang seperti tanduk rusa.
Bentuk ini memang terinspirasi dari hewan rusa.
Memiliki filosofi yang berkaitan dengan karakter rusa yaitu cerdik, cerdas dan anggun.
Tiga karakter ini yang harus dimiliki oleh perempuan nantinya setelah menikah,
7. Sumping
Sumping merupakan hiasan yang diletakkan di telinga, biasanya terbuat dari lempengan logam.
Namun pada awalnya, sumping yang digunakan oleh trah kerajaan terbuat dari daun papaya.
Daun pepaya memiliki filosofi rasanya pahit, sehingga menandakan bahwa menjadi seorang istri harus siap untuk merasakan berbagai kepahitan.
8. Kalung Sungsun
Sungsun berarti tumpuk atau susun dalam bahasa Indonesia.
Kalung Sungsun memiliki tiga tumpukan atau susunan dan mensimbolkan dengan tiga fase kehidupan yang harus dilalui oleh seorang wanita.
Fase ini terdiri dari kelahiran, pernikahan dan kematian.
Filosofinya setiap wanita harus siap untuk menghadapi fase-fase tersebut.
9. Kelat bahu
Kelat bahu adalah hiasan yang disematkan di bahu pengantin wanita.
Kelat ini berbentuk naga, dipercaya sebagai hewan yang memiliki kekuatan besar.
Filosofinya adalah perempuan harus menjadi makhluk yang kuat dalam menghadapi beragam masalah yang hadir di dalam pernikahan.
10. Gelang paes ageng
Dalam tata rias dan busana paes ageng, gelang yang dipakai pengantin wanita berbentuk bulat tanpa putus.
Ini adalah simbol dari cinta abadi antara dia dan suaminya.***

Share this article
Paras Erina Gudono di pernikahannya dengan Kaesang, ayu melambangkan kecantikan wanita jawa, ditambah dengan riasan paes ageng Yogyakarta