AYOJAKARTA.COM - Industri kreatif mulai menjadi trend bagi generasi milenial. Jam kerja yang fleksibel dan dapat dikerjakan di mana saja, menjadi satu alasan kenapa industri ini banyak peminat.
Tak terkecuali industri media. Dituntut untuk selalu update, baik waktu maupun isu ternyata cukup membuat stres.
Dilansir dari pijarpsikologi.org, berikut beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental yang dapat dilakukan bagi pekerja media ataupun industri kreatif.
Baca Juga: 7 Provinsi di Indonesia dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi, DKI Jakarta Tempati Urutan Berapa?
1. Buat Batas Tegas
Jam kerja fleksibel, asal deadline bisa selesai atau bisa dikerjakan dimana saja. Sedikit banyak ternyata justru membuat jam kerja amburadul.
Imbasnya, jam kerja fleksibel justru memisahkan batas waktu personal dengan waktu kerja.
Bekerja bisa jam berapa saja, termasuk melalui klien via chat atau meeting online hingga malam hari. Awalnya mungkin baik-baik saja.
Padahal hal ini justru melupakan batas waktu antara kerja dan personal. Imbasnya kita lupa meluangkan waktu untuk kehidupan pribadi kita dan menikmati seutuhnya.
2. Jika Perlu, Gunakan 2 Gadget
Lebih untuk membuat batas. Kehadiran gawai ternyata dapat mengacaukan batasan-batasan ini. Smartphone bisa menjadi tempat untuk berjejaring dengan network pekerjaan, teman atau keluarga besar.
Siapapun terbiasa membuka smartphone kapan saja. Termasuk pekerja kantoran. Saat bekerja, tiba-tiba ada notifikasi dari orang tua. Secara tidak langsung akan membuat konsentrasi terpecah.
Begitu sebaliknya. Saat berada di rumah, ada notifikasi pekerjaan juga membuat pikiran tidak fokus.
Terus saja seperti hingga sulit membedakan kapan waktu untuk pekerjaan dan personal seutuhnya.
Padahal di negara lain, seperti Perancis dan Jerman. Tengah digaungkan pengharaman telepon urusan kantor di luar jam kerja. Ini dimaksudkan untuk menjamin kesehatan mental karyawan.
Negara kita dan bisa jadi perusahaan tempat kita bekerja masih jauh dari kebijakan tersebut.
Untuk itu langkah ekstrem yang dapat dilakukan adalah memiliki dua smartphone. Tujuannya untuk memberi batas yang tegas.
3. Jaga Fisik Tetap Fit
Bisa jadi terdengar klise, bahkan basi. Akan tetapi, fisik dan mental memiliki hubungan erat itu tidak dapat dibantah.
Terlebih lagi kita orang Asia yang sejak dahulu tidak mengenal dualisme antara jiwa dan raga.
Kesehatan fisik sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Begitu sebaliknya.
Baca Juga: 20 Kalimat Afirmasi Positif yang Perlu Anda Baca Setiap Hari Saat Sebelum Tidur
Pikiran yang penuh beban dapat membuat pundak, leher dan pinggang sakit. Sama halnya fisik yang tidak fit membuat lebih lambat dalam berpikir dan mudah marah.
Maka dari itu, menjaga kesehatan fisik juga baik dilakukan untuk menyeimbangi pekerjaan yang penuh tekanan.
Terlebih pola bekerja yang sedentary mempercepat penumpukan lemak di paha dan perut. Dengan olahraga, kita akan lebih bahagia karena melihat badan tetap sehat dan bugar bugar.
Baca Juga: CPNS dan P3K di Daerah 3T Bakal Dapat Intensif Khusus
4. Self-Care
Seberapa padat tuntutan kerja yang dijalani, jangan lupa untuk tetap santai dan menikmati kehidupan.
Bisa dengan meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas sederhana. Seperti, menulis gratitude journal, olahraga, membaca buku, mendengarkan musik, facial dan pijat refleksi.
Aktivitas sederhana seperti itu dapat disebut sebagai self-care. Cara mensyukuri hidup dengan merawat dan memanjakan diri.
Dengan memberi waktu untuk diri sendiri, akan disadari jika hidup ini tidak hanya untuk bekerja saja.
Ada bagian dalam diri yang harus diperhatikan kesejahteraannya untuk tetap seimbang.
5. Lakukan Kreativitas yang Sebenarnya
Bekerja di industri kreatif dan melakukan kreativitas adalah hal yang berbeda. Dalam konteks bekerja di industri kreatif.
Otak kita diperas untuk menghasilkan ide yang kreatif terkait suatu produk hingga bagaimana caranya menjual produk tersebut sesuai kebutuhan pasar.
Otak kita dipaksa memikirkan berbagai bentuk ide produk, ide iklan, ide pameran, ide penyaluran produk agar diterima masyarakat.
Kita dituntut kreatif dan ini bisa jadi penuh tekanan. Berbeda dengan bermusik, menulis, menggambar, melukis atau mindful drawing, colouring, aktivitas-aktivitas ini adalah aktivitas kreatif yang tidak menuntut otak kita dan lebih banyak penyaluran emosi di dalamnya.
Aktivitas tersebut juga menyerap penuh perhatian kita ke seni sehingga kita bisa lupa dan melepaskan beban pekerjaan.
Baca Juga: CPNS dan P3K di Daerah 3T Bakal Dapat Intensif Khusus
6. Pola makan
Kita terbiasa minum kopi di pagi serta siang hari untuk menunjang performa.
Setelah itu, mengkonsumsi alkohol di malam hari untuk melepaskan stres.
Kita juga terbiasa mengkonsumsi junk food yang cepat untuk diraih dan dikonsumsi asal perut merasa kenyang.Bekerja sambil memakan cemilan seperti coklat, permen, keripik dan sejenisnya juga biasa kita lakukan.
Padahal, semua hal itu jika terlalu sering dikonsumsi malah akan memperburuk stres yang kita rasakan saat bekerja. Akan lebih baik ketika kita membiasakan untuk mengkonsumsi sayur, buah, dan air mineral yang cukup saat bekerja. Bekerja di startup atau industri kreatif memang menyenangkan karena memfasilitasi kebutuhan milenial yang tidak bisa diam dan juga butuh tujuan hidup.
Akan tetapi, lika-liku stres di sana juga tidak kalah dramatis dengan kerja di korporasi besar.
***
Share this article
Industri kreatif mulai menjadi trend bagi generasi milenial. Jam kerja yang fleksibel dan dapat dikerjakan di mana saja, menjadi satu alasan