AYOJAKARTA.COM – Depresi merupakan salah satu kondisi gangguan kesehatan mental yang paling umum.
Menurut WHO (World Health Organization), diperkirakan sekitar 280 juta orang dari seluruh penduduk dunia hidup dengan gangguan depresi.
Gangguan mental depresi ditandai dengan rasa putus asa, perasaan terbebani, dan hilangnya kesenangan dalam hal-hal yang biasanya membuat seseorang gembira.
Gejala depresi memiliki banyak bentuk, dan tidak ada pengalaman dua orang yang sama persis. Seseorang yang mengalami depresi mungkin tidak selalu terlihat sedih di mata orang lain.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Pilih Bentuk Geometri yang Bisa Menggambarkan Sifat Khas, Kamu Suka yang Mana?
Dan ketika teman atau keluarga melihat tanda-tanda depresi, mereka ingin membantu tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
Pengertian Depresi
Tidak seperti kesedihan, depresi berlangsung tidak hanya dalam 1 atau 2 hari. Depresi bisa berlangsung selama berminggu-minggu, mengganggu pekerjaan atau sekolah, hubungan dengan orang lain, dan tidak bisa menikmati hidup.
Bagi penderitanya, mereka seolah-olah merasa ada kekosongan dalam dirinya ketika mengalami rasa putus asa yang terkait dengan depresi.
Apatis dan anhedonia, atau ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan, adalah masalah umum dari depresi.
Gejala Depresi
Jika kamu mengalami sebagian besar dari gejala-gejala berikut ini setiap hari selama 2 minggu atau lebih, kamu mungkin memenuhi kriteria untuk mengidap depresi:
- Perasaan kesepian atau kesedihan yang terus-menerus
Baca Juga: Psikologi Orang Kidal, Tantangan Hidup di Tengah Dunia yang Diciptakan untuk Tangan Kanan
- Kekurangan energi
- Perasaan putus asa
- Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
- Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
- Kesulitan dengan konsentrasi atau perhatian
- Kehilangan minat dalam kegiatan yang menyenangkan atau bersosialisasi
- Perasaan bersalah dan tidak berharga
- Pikiran tentang kematian atau bunuh diri
Jenis-jenis Depresi
Baca Juga: 9 Rekomendasi Menu Sahur Ramadhan agar Kenyang Lebih Lama, Cobain Yuk!
Depresi terdiri dari banyak jenisnya dan masing-masing memiliki gejala tersendiri.
- Major Depressive Disorder (MDD)
MDD adalah diagnosis depresi yang paling umum. Jenis ini merupakan hal yang terlintas di benak kebanyakkan orang ketika mereka memikirkan depresi.
Jika misalnya kamu kehilangan kegembiraan dalam aktivitas yang biasa kamu nikmati, dengan suasana hati yang tertekan yang berlangsung selama setidaknya 2 minggu, kamu mungkin telah memenuhi syarat menderita MDD.
Pada anak-anak dan remaja, MDD juga dapat terlihat seperti mudah tersinggung daripada kesedihan.
- Postpartum Depression (Depresi Pasca Persalinan)
Depresi jenis ini merupakan depresi yang dapat terjadi pada orang yang baru saja melahirkan.
Hal ini juga dapat terjadi pada orang tua dan pengasuh lain yang belum pernah melahirkan.
Biasanya, depresi pasca persalinan dapat dimulai pada bulan pertama setelah melahirkan, tetapi juga dapat dimulai selama kehamilan.
Jika kamu memiliki riwayat depresi, kamu lebih mungkin mengalami depresi pasca persalinan.
Baca Juga: 3 Tips Menjalani Puasa dengan Lancar, Hindari 3 Kesalahan Ini
- Seasonal Affective Disorder (SAD-Gangguan Afektif Musiman)
SAD adalah bagian dari depresi yang dipicu oleh perubahan musim. Meskipun lebih sering terjadi pada musim dingin dan musim gugur, gangguan ini juga dapat terjadi pada musim panas.
Jika kamu merasakan kesedihan yang terus menerus atau kekurangan energi selama waktu tertentu dalam setahun, kamu mungkin mengalami depresi musiman.
Perawatannya meliputi cara terapi cahaya, membangun rutinitas tidur yang konsisten, dan terapi bicara.
- Persistent Depressive Disorder (PDD/Distimia)
PDD sebelumnya dikenal sebagai distimia dan depresi mayor kronis, yang berlangsung selama setidaknya 2 tahun.
Meskipun lebih sulit diobati daripada jenis depresi lainnya, namun gejalanya bisa diredakan.
Jika kamu didiagnosis dengan PDD, maka sebaiknya kamu segera mendatangi ahli medis profesional.
Baca Juga: Ingin Puasa Tetap Kuat dan Anti Lemas? Simak Menu Sahur Sehat yang Simpel ala Dokter Zaidul Akbar
- Bipolar Disorder Depression (BDD)
Beberapa bentuk gangguan bipolar melibatkan episode depresi. Kadang-kadang episode depresi bergantian dengan episode mania atau hipomania.
Perawatan untuk BDD bisa berbeda dari pendekatan perawatan depresi lainnya. Misalnya, karena sifat gangguan bipolar, antidepresan tidak selalu merupakan cara yang aman untuk menangani gejala gangguan bipolar.
- Turunan Gejala Depresi
Selain beberapa jenis yang sudah disebutkan lainnya, ada beberapa jenis gangguan mental lainnya yang masih menjadi bagian dari depresi.
Beberapa turunan depresi adalah cemas, melankolis, psikotik, katatonik, dan atipikal.***

Share this article
Kenali apa itu depresi dan apa saja yang menjadi ciri dan gejalanya dari kondisi gangguan mental ini. Perhatikan ulasan berikut.