AYOJAKARTA.COM - Menjalani hubungan yang sehat pasti menjadi dampaan semua orang.
Tidak terbatas hubungan percintaan. Namun pertemanan, persahabatan hingga keluarga.
Hubungan sehat akan mempengaruhi kondisi kesehatan mental kita juga.
Lalu, pernahkan merasa kalau kita sendiri yang toxic buat pasangan?
Dalam memulai sebuah hubungan, kalimat "Dicoba saja. Nanti juga bisa sendiri!", ternyata tidak baik.
Baca Juga: Lagi Kehilangan Percaya Diri? Cobalah Tips Ini untuk Mengembalikan Percaya Diri dengan Cepat
Bermodalkan awal yang seperti itu, pada akhirnya bisa saling menyakiti. Tanpa kita sadari, kita menghormati orang yang sebenarnya kita cintai.
Dilansir Ayojakarta.com dari Instagram @memilihmencintai, Rabu 20 Maret 2024 menemukan perbedaan antara hubungan sehat dengan hubungan toxic.
- Saat Salah
Hubungan Sehat :
- Berani mengakui, meminta maaf dan memperbaiki keadaan yang dibuat kacau.
- Kesalahan yang ia lakukan tak dicari-cari alasannya. Apalagi menyalahkan pihak lain.
Hubungan Toxic
- Ketika salah, malah berusaha menghindari tanggung jawab, ghosting, marah-marah, menyalahkan balik atau mencari-cari alasan atas yang ia lakukan.
- Egoisnya masih terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan.
- Saat Marah
Hubungan Sehat :
- Marah pada pasangan adalah hal wajar. Namun, di saat hubungan sehat ia disalurkan dengan terkendali
- Kemarahan didasari alasan jelas. Disampaikan dengan jelas dan berakhir jelas
Hubungan Toxic
- Mudah marah pada pasangan hanya karena hal sepele.
- Sering mengungkit jasa diri atau kesalahan pasangan di masa lalu.
- Selalu ingin memperpanjang perdebatan yang tak jelas ujungnya.
- Respek
Hubungan Sehat :
- Kedua belah pihak berusaha menjaga respek pada pasangan dengan senantiasa mengingat kebaikan dan jasa yang telah dilakukan oleh pasangannya.
- Respek ini membuat cinta lebih awet dan komunikasi terjaga.
Hubungan Toxic :
- Hanya ingat salah dan kurangnya pasangan.
- Tak ada keinginan untuk bisa menghargai jasa pasangan
- Biasanya karena ada pikiran, "Memang sudah seharusnya dia seperti itu. Nggak perlu terimakasih!"
- Dominasi
Hubungan Sehat :
- Tidak ada dominasi berlebihan dalam hubungan. Dibangun atas pemahaman yang adil dan setara untuk kedua belah pihak.
Baca Juga: Ada THR untuk Ojol dan Kurir, Driver: Jangan Terlalu Berharap sama Berita THR Ini, Cuma Imbauan
- Meski salah satunya memimpin, ia lakukan dengan kebijaksanaan dan mengayomi. Bukan mendominasi
Hubungan Toxic :
- Salah satu atau bahkan keduanya berusaha untuk mendominasi hubungan dan membuat pasangan berada 'di bawah kontrolnya'.
- Kepuasan karena bisa mengontrol pasangan adalah kepuasan yang semu dan bukan kebahagiaan sejati.
- Komunikasi
Hubungan Sehat :
- Komunikasinya secara umum berisi hal-hal positif dan menyenangkan. Pujian, apresiasi dan support bukan hal yang asing di antara mereka.
- Tentu ada konflik dan masalah. Namun konflik dijalani dengan sehat dan diatur baik-baik
Hubungan Toxic :
- Komunikasinya diisi dengan berbagai hal negatif. Sindiran, celaan, makian, tuntutan, penghakiman dan yang lain.
- Seringkali hal ini terjadi karena aspek yang sudah hilang atau terlalu banyak berekspektasi ke pasangan.
Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar dan manusiawi. Bahkan bisa jadi kita semua memiliki sisi ke-toxic-an.
Sedikit atau banyak, disadari atau tidak. Terutama, jika sudah sebelumnya adalah korban ke-toxic-an itu sendiri.
Namun, kita menjadi bersalah jika tak ada keinginan untuk berubah dan berbenah.***

Share this article
Kenali perbedaan hubungan sehat dan toxic berikut agar kamu tidak sampai terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat.