AYOJAKARTA.COM - Kalau ada orang yang sesumber, tolong kritik saya, jangan langsung percaya.
Pasalnya, sebagai makhluk yang punya naluri untuk mempertahankan harga diri, orang cenderung membela dirinya saat dikritik, istilahnya: defensif.
Apalagi kalau yang dikritik oleh orang yang punya kuasa, bukan hanya defensif tapi bisa berubah lebih beringas menjadi opresif.
Baca Juga: 5 Tanda Bahaya Media Sosial yang Telah Mengambil Alih Hidup Kamu
Akun Instagram @satupersenofficial yang dikutip AyuJakarta.com (20/3/2024) membagikan tips psikologi untuk menyampaikan kritik yang tidak terasa sebagai kritik.
Nama lainnya, kritik yang persuasif.
Menurut riset, kritik yang disampaikan dengan kepedulian, akan membuat orang yang dikritik lebih terbuka.
Caranya, ungkapkan apa yang kamu inginkan tanpa menyebutkan kesalahan orang lain, misalnya: “Aku kangen mendengar cerita keseharian kamu.”
Baca Juga: Kamu Seorang Social Media Specialist? RecritGo Buka Lokerlho, Kamu Juga Bisa Bekerja di Rumah
Kalimat itu jauh lebih enak didengar ketimbang: “Kok kamu tidak pernah cerita lagi tentang keseharian kamu sama aku?”
Selanjutnya, kritik tidak selalu menyoroti masalah, tapi juga bisa disampaikan dengan menawarkan solusi, misalnya: “Apa yang bisa aku bantu buat menyelesaikan tugasmu?”
Kalimat tersebut jauh lebih baik daripada: “Tugas kamu belum selesai juga? Apa saja kerjamu dari kemarin?”
Empati dan solusi itu adalah kritik yang bermartabat, kritik yang persuasif.
Alih-alih menjadi defensif, orang yang mendengar kritik akan menjadi lebih bersemangat untuk memperbaiki dirinya.
Jika itu terjadi, maka tujuan kritikmu tercapai tanpa harus melukai perasaan orang yang kamu kritik.***

Share this article
Kamu ingin memberikan kritik terhadap seseorang tanpa menyinggung perasaannya? Begini caranya menurut psikologi.