AYOJAKARTA.COM - Menampilkan perilaku yang dianggap “buruk” mungkin disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk kurangnya kesadaran diri.
Namun hal ini tidak selalu menentukan siapa seseorang. Kondisi manusia adalah suatu ketidaksempurnaan.
Setiap orang menghadapi tantangannya masing-masing, membuat kesalahan, memiliki kesalahan dalam penilaian, atau mengatakan sesuatu yang mereka sesali setelah kejadian tersebut.
Baca Juga: Pemilik Tanggal Lahir 5, 13, dan 22 Punya Segudang Kebaikan dalam Kepribadiannya
Momen-momen ini tidak menjadikan kamu orang yang "jahat", melainkan hanya menjadikan kamu manusia.
Dicap sebagai “baik” atau “buruk” sering kali berasal dari cara orang lain memandang pola perilaku dan kepribadian kamu yang sudah berlangsung lama.
Misalnya, jika kamu biasanya bertindak dengan kebaikan, kasih sayang, dan penilaian yang adil, kamu mungkin dianggap “baik”.
Baca Juga: 8 Rahasia Psikologis tentang Manusia yang Jarang Diketahui Orang
Namun, menjadi “baik” bukan berarti seseorang tidak bisa atau tidak mau melakukan hal buruk.
Dengan memahami alasan orang baik melakukan hal buruk, kamu mengembangkan sifat kebaikan kamu sendiri, seperti empati dan kasih sayang.
Dikutip dari Psych Central, berikut adalah beberapa hal yang menyebabkan orang baik melakukan hal buruk:
1. Trauma masa lalu dan kejadian buruk dalam hidup
Masa lalu adalah diktator yang kuat tentang cara kamu bertindak saat ini - bahkan jika kamu tidak menyadarinya.
Baca Juga: 5 Tips Memilih Jurusan Kuliah dari Mendiang Steve Jobs, Ada yang Pernah Kamu Coba?
Rod Mitchell, psikolog dari Calgary, Alberta, mengatakan bahwa orang baik mungkin bertindak berbahaya jika dipicu oleh trauma yang belum terselesaikan.
Bagaikan bayangan dari masa lalu, trauma-trauma ini untuk sesaat dapat menutupi kebaikan yang melekat pada diri mereka sebagai manusia.
2. Modus bertahan hidup
Ketika kamu merasa terpojok adalah alasan lain mengapa orang baik melakukan hal buruk, menurut Dr. David Tan, psikiater anak dan forensik dari Bay of Plenty, Selandia Baru.
Contohnya adalah jika kamu kehilangan pekerjaan dan menghadapi kesulitan keuangan yang besar, seperti kehilangan rumah.
Perasaan putus asa, stres yang luar biasa, dan tekanan untuk menafkahi keluarga mungkin membuat kamu mempertimbangkan pilihan yang tidak etis seperti penipuan atau pencurian.
Baca Juga: Hati-hati! Ini 5 Tanda Kamu Sedang Menjadi Korban Gaslighting dari Seseorang
3. Kebutuhan untuk diterima
Manusia pada dasarnya bersifat sosial dan bertahan sepanjang sejarah melalui kerja sama dan kolaborasi kelompok.
Ingin merasakan rasa memiliki di antara teman-teman adalah hal yang wajar.
Salah satu alasan mengapa orang baik terkadang melakukan hal buruk adalah karena tekanan atau pengaruh masyarakat, menurut Lindsey Tong, pekerja sosial klinis dari Woodland Hills, California.
Keinginan bawaan untuk menyesuaikan diri dan merasa diterima dapat membuat seseorang bertindak bertentangan dengan penilaian mereka yang lebih baik.
4. Kurangnya kesadaran diri
Ketika seseorang tidak selaras dengan emosi atau nilai-nilainya, mereka mungkin secara tidak sengaja bertindak bertentangan dengan keyakinannya.
Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sedang stres atau merasa kewalahan dan tidak meluangkan waktu untuk merenungkan tindakannya.
Contohnya mengatakan hal-hal yang menyakitkan saat bertengkar karena kamu terlalu terjebak dalam perasaan sakit hati dan frustrasi.
Alih-alih mengakui perasaan itu dalam diri kamu, kamu malah memproyeksikan rasa sakit itu kepada orang lain.
Baca Juga: 10 Mata Uang Terendah di Dunia, Rupiah Salah Satunya?
5. Semakin besar kebaikannya
“Tujuan menghalalkan cara” adalah pepatah yang diambil dari karya sastra filsuf Italia Niccolo Machiavelli.
Ini menyiratkan bahwa hasil positif memerlukan tindakan negatif apa pun yang diperlukan untuk mencapainya.
Terkadang, orang baik mengambil tindakan yang mereka yakini demi 'kebaikan yang lebih besar', tanpa menyadari konsekuensi buruknya.
Contohnya adalah pembangkangan sipil secara ekstrem, seperti perusakan properti, untuk menarik perhatian pada isu-isu sosial dan politik yang mendesak.
6. Keadilan yang salah arah
Jika kamu merasa telah dirugikan, tindakan pembalasan dengan cara yang sama negatifnya bisa dibenarkan.
Kamu tidak memulai interaksi, kamu hanya membalasnya dengan cara yang sama.
Kita mungkin melakukan hal-hal buruk ketika kita membenarkan tindakan tertentu sebagai hal yang benar untuk dilakukan.
Seperti ketika seseorang memutuskan untuk membalas atas suatu hal yang dianggap remeh atau tersinggung.
7. Gangguan kesehatan jiwa
Hidup dengan gangguan kesehatan mental tertentu dapat mempengaruhi cara kamu memandang dunia dan cara kamu berinteraksi dengan orang lain.
Kondisi seperti gangguan kepribadian narsistik (NPD), misalnya, secara alami menunjukkan empati yang rendah; kemampuan untuk berhubungan dengan perasaan dan pikiran orang lain.
Gangguan depresi dan gangguan kecemasan dapat menyebabkan perubahan perilaku yang mungkin dianggap negatif oleh orang lain.
Misalnya, mengabaikan komitmen dan mengabaikan tanggung jawab pada gangguan depresi mayor (MDD), adalah salah satu gejala yang dapat dianggap sebagai perilaku “buruk”.
***

Share this article
Menampilkan perilaku yang dianggap “buruk” mungkin disebabkan oleh berbagai alasan, termasuk kurangnya kesadaran diri.