AYOJAKARTA.COM - Kamu mungkin pernah bertemu dengan orang yang sepertinya tidak pernah merasa bersalah, meskipun jelas-jelas dia melakukan kesalahan?
Mengapa ada orang seperti ini? Berikut penjelasan psikolog klinis Ferdian Permana di akun TikToknya @katapsikologi:
1. Gaya Pengasuhan
Jika anak tidak pernah merasa bersalah atas kesalahannya, mungkin karena orang tuanya terlalu permisif.
Jika orang tua tidak memberikan konsekuensi atau hukuman atas kelakuan buruk anaknya, anak tidak akan belajar tentang dampaknya.
Baca Juga: Polri Akui Anggotanya Tak Teliti dalam Pengusutan Awal Kasus Pembunuhan Vina dan Eki di Cirebon
- Pada masa kanak-kanak, terutama antara usia 7 dan 12 tahun, anak sedang mengembangkan rasa moralitasnya.
Awalnya, mereka memahami apa yang menyenangkan atau tidak menyenangkan orang tuanya.
Namun seiring bertambahnya usia, terutama sekitar usia 12 tahun, mereka mulai memahami konsekuensi dari tindakan mereka.
2. Kurangnya Konsekuensi
Jika anak menyadari bahwa kesalahannya tidak menimbulkan konsekuensi negatif, mereka mungkin berpikir bahwa mereka bisa lolos dari tindakan apa pun.
Keyakinan ini dapat tumbuh semakin kuat ketika mereka beranjak remaja dan dewasa.
Tanpa mengalami dampak, anak bisa saja mengalami gangguan tingkah laku.
Kondisi ini membuat mereka merasa tidak terkalahkan, percaya bahwa mereka bisa melakukan kesalahan atau bahkan kejahatan tanpa harus dihukum.
3. Eskalasi ke Gangguan Serius
Jika perilaku ini terus berlanjut hingga masa remaja dan dewasa, hal ini dapat berkembang menjadi gangguan kepribadian antisosial.
Ini lebih parah daripada gangguan perilaku.
Orang dengan gangguan ini merasa kebal terhadap hukum, percaya bahwa mereka bisa melakukan apa saja, dan tidak menunjukkan rasa hormat atau takut terhadap orang lain.
Mereka sering kali berulang kali melanggar hukum dan menghabiskan waktu keluar masuk penjara.
Baca Juga: Lirik Lagu Sigar Denny Caknan Beserta Artinya, Trending Nomor 1 di YouTube!
4. Peran Orang Tua
Untuk mencegah masalah ini, penting bagi orang tua untuk mengajari anak-anak mereka tentang konsekuensinya.
Perilaku positif harus diberi penghargaan, sedangkan tindakan negatif harus mendapat hukuman yang pantas.
Hal ini membantu anak-anak belajar dari kesalahan mereka dan mengembangkan rasa moralitas.
Menanamkan rasa takut akan konsekuensi dan memberikan pendidikan moral sangatlah penting.
Saat anak-anak bertumbuh, pelajaran ini membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik.
5. Kemungkinan Masalah Hormon
Dalam beberapa kasus, masalah perilaku mungkin disebabkan oleh masalah hormonal.
Jika seorang anak terus-menerus menunjukkan perilaku kekerasan atau antisosial, konsultasi dengan psikiater, dokter perkembangan, atau psikolog mungkin diperlukan.
Singkatnya, mengajari anak-anak tentang konsekuensi dan nilai-nilai moral sejak usia muda sangatlah penting.
Ini membantu mereka memahami dampak tindakan mereka dan mencegah berkembangnya gangguan perilaku parah di kemudian hari.***
Baca Juga: Postingan Facebook Pegi Setiawan Diduga Dihapus Oknum Penyidik, Toni RM Siap Laporkan ke Propam

Share this article
Begini penjelasan menurut psikologi klinis terhadap seseorang yang selalu merasa tidak bersalah, kamu termasuk?