AYOJAKARTA.COM - Upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir terus dilakukan warga Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.
Melalui inisiatif anggota Karang Taruna, kini kawasan tersebut memiliki Smart Flood Warning System.
Smart Flood Warning System merupakan sebuah sistem peringatan dini yang dirancang untuk memberikan informasi lebih cepat kepada warga ketika debit air sungai mulai meningkat.
Lurah Pondok Labu, Nachnoer Vernier Atom, mengatakan inovasi tersebut lahir dari gagasan Muhammad Azzuhri Ramdhani, pemuda berusia 23 tahun yang aktif di Karang Taruna RT 02 RW 10.

Ide itu muncul setelah ia mengikuti pendidikan dan pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta.
Menurut Vernier, pengalaman mengikuti pelatihan tersebut mendorong Azzuhri untuk mencari solusi yang dapat membantu masyarakat di wilayahnya, mengingat Pondok Labu merupakan salah satu kawasan yang kerap terdampak banjir saat curah hujan tinggi.
"Setelah mengikuti diklat BPBD, beliau memiliki gagasan membuat alat pendeteksi banjir karena juga tinggal di lokasi yang rawan banjir," ujar Nachnoer, Senin (20/7).
Kelurahan Pondok Labu menjadi salah satu wilayah di Jakarta Selatan yang cukup rentan terhadap banjir.

Banjir terbesar terjadi pada 2020 dengan ketinggian dengan ketinggian air mencapai hampir dua meter di sejumlah titik, menjadi pengingat pentingnya sistem mitigasi yang lebih efektif.
Menurutnya, posisi wilayah yang diapit Kali Grogol dan Kali Krukut itu menyebabkan sejumlah permukiman kerap terdampak luapan air ketika debit sungai meningkat.
"Tercatat sebanyak 158 kepala keluarga (KK) atau 540 jiwa di RT 01/10 terdampak banjir. Sementara, di RT 02/10 terdapat 120 KK atau 386 jiwa yang berpotensi terdampak," ungkapnya.
Sebagai langkah awal, dua unit Smart Flood Warning System telah dipasang di RT 01 dan RT 02 RW 10.

Kedua lokasi tersebut dipilih karena menjadi kawasan yang paling sering mengalami banjir sekaligus menjadi lokasi uji coba penerapan teknologi tersebut.
Kendati demikian, pihaknya berencana untuk memperluas pemasangan alat serupa di titik-titik rawan banjir lainnya melalui dukungan program CSR dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Penggagas Smart Flood Warning System, Azzuhri menambahkan, ide tersebut lahir dari diskusi bersama rekan-rekan Karang Taruna yang memiliki kemampuan di bidang teknologi setelah mengikuti pelatihan kebencanaan BPBD.
Sistem ini dirakit dengan memanfaatkan berbagai komponen elektronik bekas yang diperoleh dari swadaya masyarakat.
Pemasangan unit pertama didukung dana kas RT, partisipasi warga, dan Karang Taruna pada akhir 2024.

Selanjutnya, pemasangan unit kedua dapat direalisasikan melalui dukungan program CSR FIF Group.
Sebelum alat tersebut tersedia, penyampaian informasi mengenai potensi banjir masih dilakukan secara manual menggunakan kentongan, pengeras suara masjid, maupun memukul tiang listrik.
"Cara ini dinilai kurang efektif, terutama saat hujan turun pada malam hari karena informasi tidak dapat diterima secara cepat oleh seluruh warga," imbuhnya.
Ia juga mengatakan bahwa alat ini dibuat agar masyarakat memperoleh informasi lebih awal. Banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini.***
Share this article
Inovasi tersebut lahir dari gagasan Muhammad Azzuhri Ramdhani, pemuda berusia 23 tahun yang aktif di Karang Taruna RT 02 RW 10.