AYOJAKARTA.COM - Salah satu upaya mengurangi volume sampah di TPST Bantargebang, Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Timur gencar mengolah sampah organik.
Sebanyak 3,4 ton sampah organik per hari berhasil diolah menjadi bubur fermentasi untuk pakan maggot dan bahan kompos.
Dikutip ayojakarta.com dari situs resmi Pemprov DKI pada Senin, 18 Mei 2026 di Kantor Suku Dinas LH Jakarta Timur, sampah organik hasil pemilahan warga dari 10 kecamatan dikumpulkan dan diolah.

Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah kembali untuk memisahkan plastik, dedaunan tertentu, dan material lain yang tidak dapat difermentasi.
Setelah itu, sampah ditimbang dan dicacah menggunakan mesin berkapasitas 500 kilogram per jam hingga menjadi bubur organik.
Bubur hasil pencacahan kemudian dimasukkan ke dalam tong berkapasitas 80 liter dan dicampur cairan EM4 serta kolase untuk mempercepat proses fermentasi.
Kepala Suku Dinas LH Jakarta Timur, Monang Sinaga mengatakan, program pengolahan sampah organik ini telah berjalan sejak awal April 2026.

"Sampah organik yang diolah awalnya hanya sekitar 1,4 ton per hari saat ini meningkat menjadi sekitar 3,4 ton per hari," ujarnya,
Ia menjelaskan, jumlah sampah organik di Jakarta Timur diperkirakan mencapai 1.250 ton per hari. Namun, saat ini kapasitas pengolahan yang dimiliki baru mampu menangani sekitar 3,4 ton per hari.
Warga diimbau memisahkan sampah organik, nonorganik, dan residu sebelum dibuang.
"Nantinya, yang boleh dibuang ke TPST Bantar Gebang hanya sampah residu. Sampah organik dan nonorganik harus diolah terlebih dahulu," terangnya.***
Share this article
Sebanyak 3,4 ton sampah organik per hari berhasil diolah menjadi bubur fermentasi untuk pakan maggot dan bahan kompos.