AYOJAKARTA.COM — Ibadah itikaf merupakan salah satu yang bisa dilaksanakan di 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Ibadah itikaf di masjid sendiri tak hanya berdiam diri saja, namun melakukan beberapa amalan.
Momen itikaf sendiri tak hanya dilakukan saat 10 hari terakhir Ramadan, bisa saja kapanpun saat bulan penuh berkah ini.
Baca Juga: Buya Yahya Contohkan Perilaku Nabi Muhammad SAW di 10 Malam Terakhir Ramadan
Namun, harus ada tiga unsur baru bisa disebut itikaf menurut Ustaz Abdul Somad. Apa saja?
Ustaz Abdul Somad membeberkan jika itikaf tak hanya diam saja di Masjid tapi ada tiga unsur yang mendukung.
“Musti ada unsur baru dibilang itikaf, yang pertama menetap. Jadi kalau keluar masuk-keluar masuk tak menetap,” kata Ustaz Abdul Somad.
Tak hanya itu saja, unsur kedua agar bisa disebut itikaf yakni fil masjidi alias di dalam masjid.
Baca Juga: Film Kartu Pos Wini Diluncurkan, Ini Reaksi BUMN
“Yang kedua fil masjidi alias di dalam masjid. Ada juga yang menetap tapi di emperan masjid nah itu bukan itikaf.” katanya lagi.
Lalu bagaimana dengan Musholla? Apakah boleh itikaf di Musholla? Ustaz Abdul Somad membeberkan lebih detail.
“Kalau anda salat lima waktu subuh dzuhur asar maghrib isya itu namanya masjid. Tapi Masjid yang ada salat jumat, ada mimbarnya namanya masjid jami’. Jadi dalam fiqih itu ada dua masjid buat lima kali salat dan yang ada salat jumat namanya masjid jami’ semua boleh buat itikaf,” kata Ustaz Abdul Somad.
Itu tadi kata Ustaz Abdul Somad tentang unsur menetap dan di dalam masjid untuk ibadah agar disebut itikaf.***
Share this article
Simak unsur apa saja yang bisa dilakukan agar dapat disebut dengan itikaf, langsung baca selengkapnya kata Ustaz Abdul Somad di sini!