AYOJAKARTA.COM – Salat duha merupakan salat sunnah yang dikerjakan pagi hari hingga menjelang waktu zuhur.
Kedudukan salat duha sangat istimewa. Hal ini dikarenakan salat ini diwasiatkan oleh Rasulullah.
Maka dari itu dalam melaksanakan salat ini harus mengetahui ketentuan waktu pelaksanaannya yang sesuai dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dikutip AyoJakarta.com melalui YouTube Islam Populer, Senin (30/1/2023), Syekh Hasan bin Ammar dalam kitab Maroqil Falah menyebutkan duha merupakan nama waktu yang diawali dengan naiknya matahari hingga tergelincirnya sementara.
Sementara itu, Syekh Muhammad bin Abdullah Al Kharasyi Al Maliki dalam Syarh Mustasyar Cholir menerangkan bahwa terdapat tiga waktu antara terbit hingga tergelincirnya matahari.
1. Dhohwah
Yaitu waktu saat matahari terbit hingga naik
2. Duha
Waktu ketika naiknya matahari hingga tepat di atas langit
3. Habis waktu duha
Waktu yang dimulai sejak habis waktu duha hingga tergelincir matahari
Mengetahui waktu pelaksanaan salat duha ini penting, karena ada waktu-waktu tertentu pelaksanaan salat yang dilarang.
Baca Juga: Apakah Kredit Rumah dengan Sistem KPR Itu Riba? Simak Penjelasan Ustadz Adi Hidayat Menurut Islam
Adapun waktu yang dilarang untuk salat yakni sebagai berikut.
- Setelah salat subuh sampai matahari naik sekitar satu anak panah
- Ketika matahari tepat di atas kepala sampai masuknya salat zuhur
- Waktu matahari kekuningan sampai terbenamnya matahari
“Tiga waktu yang Rasulullah, melarang kami untuk salat dan menguburkan orang mati. Ketika matahari terbit sampai naik (sedikit), ketika matahari berada titik tertinggi sampai tergelincir, ketika matahari condong untuk terbenam sampai terbenam,” (HR. Muslim).
Jadi waktu yang tepat untuk melaksanakan salat duha yakni syuruq atau terbitnya matahari ditambah 15 hingga 20 menit.
Misalnya jika waktu syuruq adalah pukul 05.53 maka 20 menit sehingga waktu duha adalah pukul 06.13.
Untuk menentukan waktu akhir pelaksanaan salat duha yakni dengan melihat bayangan suatu benda, jika Panjang bayangan sudah sama dengan tinggi badan, maka berarti sudah masuk duha.
Akan tetapi, cara terakhir ini sangat tergantung pada cuaca dan kondisi matahari itu sendiri sehingga tidak praktis dan tidak dapat dipakai sewaktu-waktu.
Terkait dengan larangan salat duha yang dikerjakan setiap hari, benarkah hal tersebut?
Perihal pelaksanaan salat duha, ulama Hanafiyah menyatakan bahwa salat duha tidak dianjurkan secara rutin setiap hari agar tidak sama dengan salat fardu atau salat wajib.
Pendapat ini dilandasi hadits dari Aisyah Radhiyallahu anha:
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, apakah nabi selalu melaksanakan salat duha?, Aisyah menjawab tidak, kecuali beliau baru tiba dari perjalanannya,” (HR. Muslim).
Berdasarkan hadits tersebut, salat duha memang dikerjakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya tetapi tidak rutin. Hal ini dikhawatirkan menjadi beban dan dianggap wajib oleh umatnya.
Tetapi dalam hadits lainnya yang menyebutkan tentang keutamaan salat duha lebih pada sebagai motivasi.
“Siapa yang dapat melaksanakan salat duha dengan kontinyu (setiap hari), niscaya akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu layaknya sebanyak buih di lautan,” (HR. Tirmidzi).
Sehingga orang yang melakukan salat duha secara terus menerus setiap hari tidak dapat disalahkan. ***

Share this article
Kedudukan salat duha sangat istimewa. Hal ini dikarenakan salat ini diwasiatkan oleh Rasulullah sendiri.