AYOJAKARTA.COM - Tinggal hitungan jam saja, bulan Ramadan 2023 atau 1444 Hijriah akan tiba.
Tepatnya, Ramadan 2023 akan jatuh pada besok Kamis (22/3/2023).
Di setiap tahunnya, momen Ramadan pastinya memiliki kenangan tersendiri bagi setiap orang.
Tak terkecuali tentang memori Ramadan di masa Presiden kedua RI Soeharto dan Presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masih ada.
Dilansir AyoJakarta.com dari laman nu.or.id, ternyata ada kisah unik saat di balik pertemuan Soeharto dan Gus Dur saat Ramadan kala itu.
Gus Dur pernah diundang oleh Soeharto untuk datang ke kediamannya di Jalan Cendana untuk berbuka puasa.
Saat itu, Gus Dur ditemani oleh Kiai Asrowi.
Setelah selesai berbuka puasa, mereka asyik menikmati kopi dan teh.
Namun, disela-sela berbincangan santai itu terselip dialog yang kocak antara Gus Dur dan Soeharto.
Soeharto: Gus Dur sampai malam di sini?
Gus Dur: Enggak pak! Saya harus segera pergi ke tempat yang lain.
Baca Juga: Resmi! Arab Saudi Tetapkan Hari Pertama Puasa Ramadan Jatuh Pada Tanggal Ini, Benar Hari Ini?
Soeharto: Oh, iya ya ya....silaken. Tapi kiainya kan di tinggal disini, ya?
Gus Dur : Oh, Iya Pak! Tapi harus ada penjelasan.
Mendengar pernyataan Gus Dur, Soeharto pun bingung dan bertanya apa maksud dari rekannya itu.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ada 6 Tips agar Puasa Berkualitas yang Bisa Diterapkan Selama Ramadan
Gus Dur: Shalat tarawihnya nanti itu "ngikutin " NU lama atau NU baru?
Tak ayal Soeharto semakin bingung saat mendengar pertanyaan dari Gus Dur.
Sebab, Soeharto merasa baru kali ini ia mendengar ada NU lama dan NU baru.
Baca Juga: Ketahui dari Sekarang! Ada 3 Hal Penting Tentang Niat Puasa Ramadan yang Jarang Diketahui
Soeharto: Lho, NU Lama dengan NU baru apa bedanya?
Gus Dur: Kalau NU lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat.
Soeharto: Oh Iya..ya..ya..ya....gak apa-apa.
Baca Juga: 8 Ide Stok Lauk Siap Goreng Anti Ribet saat Buka Puasa dan Sahur di Bulan Ramadan Selama Seminggu
Namun, setelah terdiam sejenak, Soeharto kembali bertanya soal salat tarawih NU baru.
Gus Dur: Diskon 60 persen! Hahaha... (Gus Dur, Soeharto dan semua orang yang ada di sekitarnya ngakak mendengar dialog itu)
Gus Dur: Ya, jadi shalat tarawih dan witirnya cuma tinggal 11 rakaat.
Mendengar jawaban itu, Soeharto lantas memilih untuk salat tarawih yang hanya 11 rakaat saja.***

Share this article
Gus Dur tawarkan salat rakaat versi NU lama dan NU baru, Soeharto pilih rakaat yang sedikit dengan alasan pinggang sakit.