AYOJAKARTA.COM - Pada setiap sepuluh malam di bulan Ramadan, Allah SWT memberikan keistimewaan-keistimewaan.
Pada sepuluh hari pertama bulan ramadan terdapat limpahan rahmat Allah SWT, dan sepuluh malam pertengahan adalah malam Maghfirah.
Kemudian, pada sepuluh malam terakhir adalah pembebasan dari api neraka atau Itqun Minan Nar.
Baca Juga: PERHATIKAN! Ini Dua Amalan yang Bisa Dilakukan Demi Gapai Keutamaan Lailatul Qadar
Sepuluh hari pertama adalah masa istimewa, begitupun dengan sepuluh hari pertengahan, namun pada sepuluh malam terakhir; itu momen spesial.
Pernyataan bahwa sepuluh malam terakhir ramadan adalah momen spesial, diungkap oleh Ustaz Adi Hidayat dalam satu kajian.
Secara singkat, menurut Ustaz Adi Hidayat sepuluh malam terakhir ramadan bisa menjadi pertanda kekuatan iman seorang yang berpuasa.
Selain itu, sepuluh terakhir ramadan merupakan tanda diterima atau tidaknya ibadah seseorang selama beribadah di bulan ramadan.
Baca Juga: Sindir Pedas Si Pembuat Skenario Besar, Anas Urbaningrum Minta Maaf Tak Mati Membusuk di Penjara
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya, kita tentu tidak tahu dari sekian banyak ibadah yang kita lakukan, berapa yang Allah SWT terima,” ujar UAH.
Karena ketidaktahuan tersebut, maka setiap hamba dianjurkan untuk memohon penerimaan Allah, sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW.
Sehubungan dengan permohonan tersebut, UAH menukil hadist nomor 925 yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
“Nabi sampai memohon kepada Allah SWT agar amalnya diterima,” imbuh Ustaz Adi Hidayat seraya mengingatkan pentingnya memohon kepada Allah SWT.
Permohonan semacam itu juga dilakukan oleh Nabi Allah Ibrahim AS serta Ismail AS ketika membangun kabah dengan kesungguhan dan keseriusan.
“Siapa kita dibandingkan dengan para Nabi, darimana kita mengetahui bahwa puasa kita selama ini diterima Allah SWT?” ajak UAH untuk sama-sama menimbang diri sendiri.
Karena itulah, pada sepuluh hari terakhir ramadan terdapat indikasi sekaligus menjadi penentu kualitas dan kadar keimanan seorang hamba.
Analogi yang sama juga terlihat pada setiap momen perlombaan, dimana pada putaran akhir semua mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
“Di putaran terakhir, semua semakin serius dan semakin cepat memacu untuk menjemput sesuatu yang penting di akhir,” terang UAH.
Dalam Al-Quran, penanda kesungguhan seseorang dalam menjalankan segala bentuk amal saleh adalah keimanan.
“Karena itu, kalimat iman dalam Al-Quran sering sekali disandingkan dengan amal saleh, seperti pada Surat 103, Al-Ashr,” imbuh UAH.
Keimanan adalah sesuatu yang bersifat tidak menentu, terkadang naik setinggi mungkin atau melemah saat iman menurun.
“Kata Nabi, kalau iman seseorang meningkat, dan semakin serius mengerjakan kesalehan, itu tanda keimanannya sedang menguat,” terang UAH.
Karena itu pada sepuluh hari terakhir ramadan, untuk menunjukkan kualitas keimanan, seorang hamba perlu memperbanyak amalan saleh.
Demikian seperti dirangkum Ayojakarta pada Selasa, 11 April 2023 dari kanal Youtube Kajian Rohani Islam. ***

Share this article
Amalan soleh yang bisa dilakukan oleh umat Islam di 10 hari terakhir Ramadan, ustaz Adi Hidayat ungkap hal ini