AYOJAKARTA.COM -- Dalam banyak kajian, umat muslim sering menjumpai kisah pertemuan antara Nabi Khidir AS serta Musa AS.
Oleh Allah SWT, Nabi Musa AS diperintah untuk menemui dan mempelajari bagaimana Nabi Khidir AS dalam mengambil suatu keputusan.
Nabi Allah Khidir AS selanjutnya bersedia untuk diikuti oleh Nabi Musa AS dengan syarat agar tidak banyak berkomentar.
Baca Juga: Mbah Moen Ungkap Tanda Orang Beriman, Ini Hadiah yang Allah Janjikan!
Riwayat kemudian menjelaskan, Nabi Khidir AS melakukan tiga bentuk perkara yang membuat Nabi Musa AS patut mempertanyakan.
Dalam riwayat selanjutnya dikisahkan Nabi Khidir AS berencana melubangi perahu sewaan milik sepuluh orang miskin yang bekerja di lautan.
Pada satu kajian Mbah Moen, dijelaskan bahwa perahu yang dilubangi Nabi Khidir AS tersebut merupakan perahu khusus untuk kebutuhan penyeberangan.
Baca Juga: Nasihat Mbah Moen Ketika Sedang Diterpa Masalah dalam Hidup, Harus Sabar dan Ingat Selalu Hal Ini
Nabi Khidir AS kemudian melubangi bagian depan dan belakang perahu agar tidak menjadi korban perampasan Penguasa zalim.
Mengetahui rencana Nabi Khidir AS, Nabi Musa AS kemudian melanggar syarat yang sebelumnya sudah ditetapkan, yakni berkomentar.
Nabi Musa AS beranggapan jika perahu dilubangi, maka akan membuat air masuk dan menyebabkan kapal tenggelam.
“Kalau ada perahu bagus maka akan dirampas, karena itu saya sekarang akan melubangi perahu,” ujar Mbah Moen mengutip kalimat Nabi Khidir AS.
Meski perahu sewaan sudah dilubang Nabi Khidir AS, perahu tetap berada di permukaan air dan tidak tenggelam sebagaimana kekhawatiran Nabi Musa AS.
“Tapi nyatanya perahu tidak tenggelam, karena yang menjalankan dapat berkahnya Nabi Khidir AS,” terang Mbah Moen.
Perkara kedua, Nabi Khidir AS membunuh seorang Anak Kecil yang lagi-lagi membuat Nabi Musa AS bertanya, dan melanggar perjanjian.
Perkara ketiga yang membuat Nabi Musa AS kembali berkomentar adalah ketika memperbaiki sumur milik Nabi Syu’aib AS serta mendirikan pagar yang miring.
Mbah Moen berpesan, sebagai penganut Ahlussunnah, tidak layak menyikapi perbedaan sudut pandang antara Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS.
Perbedaaan sudut pandang tersebut, Mbah Moen menambahkan merupakan suatu kelaziman yang biasa terjadi.
Sebab salah satu cara Allah SWT memberikan isyarat dan nasihat melalui seseorang adalah dengan tidak banyak bersuara.
“Jadi Wali Allah SWT itu kalau menasihati, dengan cara yang tidak banyak omong,” jelas Mbah Moen kepada jamaah.
Sehingga jika ada wali yang terlalu banyak bicara, maka berarti bahwa dirinya belum atau bahkan tidak terlalu Wali.
Demikian nasihat Mbah Moen terkait perbedaan sudut pandang yang dikutip Ayojakarta dari Youtube ppalanwarsarang pada Selasa, 18 April 2023.***(Karseno AJ)

Share this article
Mengetahui rencana Nabi Khidir AS, Nabi Musa AS kemudian melanggar syarat yang sebelumnya sudah ditetapkan, yakni berkomentar.