AYOJAKARTA.COM – Ustad Adi Hidayat (UAH) dalam penggalan video ceramahnya bercerita tentang Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan dan terus berzikir yang bisa kita amalkan untuk mempercepat doa terkabul.
Dalam penjelasannya, Ustad Adi Hidayat (UAH) bahwa semua doa yang termaktub dalam Al Quran adalah istimewa dan memiliki peruntukan sendiri sesuai dengan kebutuhan kita.
Kemudian Ustad Adi Hidayat mengungkapkan satu ayat dalam Al Quran yang dapat menjadi inspirasi dan diterapkan dalam kehidupan umat Islam, termasuk saat hendak berinteraksi dengan kitabullah itu.
Doa tersebut, menurut UAH, tercantum dalam Al Quran surat ke-21, Al Anbiya, ayat 87—88 yang menceritakan tentang kisah Nabi Yunus. Di ayat-ayat sebelumnya, yakni ayat 83—84, yang dibahas adalah kisah Nabi Ayub dan ayat 85—86 berkisah tentang Nabi Zakaria.
“Ayat 86-87 kemudian masuk ke kisah Nabi Yunus. La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh zhalimiin,” ungkap Ustad Adi Hidayat.
Dalam penggalan video tersebut, UAH menganjurkan jemaahnya untuk mendawamkan atau membiasakan membaca doa tersebut, termasuk kalau kita ingin berusaha atau ingin berinteraksi dengan kebaikan.
“Kayak kita misalnya mau coba menghafal Quran. Kayak kita mau coba membaca Quran dengan baik. Atau kita coba misalnya mendapatkan kesuksesan dalam pekerjaan. Atau kita mengatasi gangguan dalam kehidupan…. Ini masuk semua,” ujar Ustad Adi Hidayat.
Baca Juga: Gus Baha Ungkap Mbah Moen Pernah Iri dengan yang Orang 'Bodoh', Apa Maksudnya?
Menurut UAH, ada tiga bagian penting yang perlu digarisbawahi dalam dzikir Nabi Yunus tersebut.
Pertama, la ilaha illa Anta. Kedua, subhanaka Ketiga, inni kuntu minadzh dzalimiin
Pertama, kalimat la ilaha illa Anta atau la ilaha illallah, menurut UstadzAdi Hidayat, adalah dasar dari seluruh kehidupan.
“Dahsyatnya kalimat ini. Dari kalimat inilah kita tercipta. Dari kaimat inilah kita untuk diminta beribadah. Tujuan kita beribadah kepada Allah SWT untuk la ilaha illallah. Hadirnya kita di sini, hidup di dunia, la ilaha illallah,” tutur UAH.
Jadi kalau kita berdoa menggunakan satu kalimat itu kepada Allah, seakan-akan kita mengatakan:
“Ya Allah, bukankah dengan kalimat ini, bukankan dengan kata ini aku dihidupkan untuk beraktivitas? Bukankah dengan kata ini aku diminta untuk beribadah? Bukankah dengan kata ini aku diminta berjuang sampai wafat? Maka dengan semua keistimewaan di kata ini Ya Allah, mohon kabulkan, aku ingin meminta sesuatu.”
Baca Juga: Ini Berkah Baca Al Fatihah Kata Gus Baha, Surat yang Dulu Bikin Iblis Masuk ICU
Kedua, Ustad Adi Hidayat memapartkan pengertian dari kata subhanaka yang bertujuan untuk menafikan semua yang tidak setara dengan sifat-sifat Allah. Misalnya pandangan yang mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
“Oleh karena itu ketika kita mengatakan subahaka (artinya), Ya Allah aku meyakini enggak ada Tuhan selain Engkau. Enggak ada yang sifati-sifat yang layak Engkau sandang kecuali apa yang Engkau sudah tetapkan.”
Ketiga, lantas bagaimana dengan penjelasan dari inni kuntu minadz dzalimin?
Ini penjelasan Ustad Adi Hidayat.
“Selama ini aku salah ya Allah. Aku mengatakan tuhan hanya Engkau, tapi aku kadang diperbudak dunia. Aku ikut sesembahan dunia, aku akhirkan ketika Engkau meminta. Engkau panggil aku shalat, aku mengikuti panggilan dunia.
Aku katakan subahanaka, Engkau yang Maha Suci, Engkau yang Maha Esa, Engkau yang Maha Agung, tapi aku mengagungkan yang lain. Aku salah ya Allah.”
Kalau kita dawamkan doa ini dalam kehidupan maka kalimat yang indah ini akan mempercepat doa dikabulkan.
Tahu dari mana ini semua, jawaban dari ayat selanjutnya, ‘Kami akan cepat jawab’ (kata Allah).”
Profil Singkat Ustad Adi Hidayat atau UAH
Ustad Adi Hidayat (UAH), seperti disebut di laman www.quantumakhyar.com, memulai pendidikan formal di TK Pertiwi Pandeglang tahun 1989 dan lulus dengan predikat siswa terbaik. Kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN Karaton 3 Pandeglang hingga kelas III dan beralih ke SDN III Pandeglang di jenjang kelas IV hingga VI.
Di dua sekolah dasar ini dia juga mendapat predikat siswa terbaik, hingga dimasukan dalam kelas unggulan yang menghimpun seluruh siswa terbaik tingkat dasar di Kabupaten Pandeglang. Dalam program ini, dia juga menjadi siswa teladan dengan peringkat pertama.
Dalam proses pendidikan dasar ini, Adi Hidayat kecil juga disekolahkan kedua orang tuanya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang. Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama.
Di madrasah ini, dia juga menjadi siswa berprestasi dan didaulat sebagai penceramah cilik dalam setiap sesi wisuda santri.
Tahun 1997, dia melanjutkan pendidikan Tsanawiyyah hingga Aliyah (setingkat SMP-SMA) di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyyah Garut.
Ponpes yang memadukan pendidikan Agama dan umum secara proporsional dan telah mencetak banyak alumni yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional. Di Ponpes inilah ia mendapatkan bekal dasar utama dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik umum maupun agama.
Guru utama dia, Buya KH. Miskun as-Syatibi ialah orang yang paling berpengaruh dalam menghadirkan kecintaan dia terhadap al-Qur’an dan pendalaman pengetahuan.
Selama masa pendidikan ini dia telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Provinsi Jawa Barat, khususnya dalam hal syarah al-Qur’an.
Di tingkat II Aliyah bahkan pernah menjadi utusan termuda dalam program Daurah Tadribiyyah dari Universitas Islam Madinah di Ponpes Taruna al-Qur’an Jogjakarta.
Dia juga sering kali dilibatkan oleh pamannya KH. Rafiuddin Akhyar, pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia di Banten untuk terlibat dalam misi dakwah di wilayah Banten.
Ustaz Adi Hidayat lulus dengan predikat santri teladan dalam 2 bidang sekaligus (agama dan umum) serta didaulat menyampaikan makalah ilmiah “konsep ESQ dalam al-Qur’an” di hadapan tokoh pendidikan M. Yunan Yusuf.
Tahun 2003, dia mendapat undangan PMDK dari Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerjasama dengan Universitas al-Azhar Kairo, hingga diterima dan mendapat gelar mahasiswa terbaik dalam program ospek.
Tahun 2005, dia mendapat undangan khusus untuk melanjutkan studi di Kuliyyah Dakwah Islamiyyah Libya yang kemudian diterima, walau mesti meninggalkan program FDI dengan raihan IPK 3,98.
Baca Juga: 10 Pesan Cinta Kiai Maimoen Zubair: Nomor 7 Jangan Bersedih Kata Mbah Moen
Di Libya, Adi Hidayat belajar intensif berbagai disiplin ilmu baik terkait dengan al-Qur’an, hadis, fikih, usul fikih, tarikh, Lughah, dan selainnya.
Kecintaannya pada al-Qur’an dan Hadits menjadikan dia mengambil program khusus Lughah Arabiyyah wa Adabuha demi memahami kedalaman makna dua sumber syariat ini.
Guru-guru Ustad Adi Hidayat
Selain pendidikan formal, dia juga ber-talaqqi pada masyayikh bersanad baik di Libya maupun negara yang pernah dikunjunginya.
Dia belajar al-Qur’an pada Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (muqri internasional), Syaikh Ali al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri).
Adi Hidayat juga belajar ilmu tajwid pada Syaikh Usamah (Libya). Adapun di antara guru tafsir dia ialah Syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh al-Azhar) dan Dr. Bajiqni (Libya) Ilmu Hadits dia pelajari dari Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya).
Dalam hal Ilmu Fiqh dan ushul Fiqh di antaranya dia pelajari dari Syaikh ar-Rabithi (mufti Libya) dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama Syiria).
Dia mendalami ilmu lughah melalui syaikh Abdul Lathif as-Syuwairif (pakar bahasa dunia, anggota majma’ al-lughah), Dr. Muhammad Djibran (pakar bahasa dan sastra), Dr. Abdullâh Ustha (pakar nahwu dan sharaf), Dr. Budairi al-Azhari (pakar ilmu arudh), juga masyayikh lainnya.
Adapun ilmu tarikh, dia pelajari di antaranya dari Ustaz Ammar al-Liibiy (Sejarawan Libya). Selain para masyayikh tersebut, dia juga aktif mengikuti seminar dan dialog bersama para pakar dalam forum ulama dunia yang berlangsung di Libya.
Baca Juga: Ini Berkah Baca Al Fatihah Kata Gus Baha, Surat yang Dulu Bikin Iblis Masuk ICU
Di akhir 2009 dia diangkat menjadi amînul khutabâ, Ketua Dewan Khatib Jami' Dakwah Islamiyyah Tripoli yang berhak menentukan para khatib dan pengisi di Masjid Dakwah Islamiyyah.
Dia juga aktif mengikuti dialog internasional bersama para pakar lintas agama, mengisi berbagai seminar, termasuk acara tsaqafah islâmiyyah di kanal At-Tawâshul TV Libya.
Awal tahun 2011 dia kembali ke Indonesia dan mengasuh Ponpes al-Qur’an al-Hikmah Lebak Bulus. Dua tahun kemudian dia berpindah ke Bekasi dan mendirikan Quantum Akhyar Institute, yayasan yang bergerak di bidang studi Islam dan pengembangan dakwah.
Share this article
Ustad Adi Hidayat (UAH) bercerita tentang Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan dan terus berdzikir yang bisa mempercepat doa terkabul.