AYOJAKARTA.COM -- Cendol bagi orang Sunda atau Dawet bagi orang Jawa merupakan salah satu jenis minuman khas Nusantara yang muncul bukan hanya saat bulan Ramadhan.
Memiliki rasa manis serta aroma santan yang khas, Cendol atau Dawet dianggap sesuai untuk sajian menu buka puasa Ramadhan karena pas bagi lidah masyarakat Indonesia.
Mampu menghadirkan sensasi segar di tenggorokan serta memulihkan tenaga, Cendol atau Dawet semakin sering terlihat saat pelaksanaan bulan Ramadhan.
Baca Juga: Menu Buka Puasa Sederhana: Kolak Pisang Ubi dan Sambal Goreng Kentang, Lezat dan Praktis!
Sempat dijuluki sebagai hidangan penutup paling nikmat di dunia, Cendol atau Dawet juga sempat diklaim sebagai warisan kuliner dari Singapura serta Malaysia.
Meski hal tersebut secara literatur dapat dengan mudah disangkal, Cendol atau Dawet sudah ada di Nusantara sejak abad ke 19.
Menurut Heri Priyatmoko selaku Sejarawan Kuliner, bahan dasar pembuatan Cendol atau Dawet merupakan hasil alam dari tanah Jawa.
Dalam salah satu naskah kuno yakni Serat Centhini, kata Cendol atau Dawet sendiri oleh para pujangga bahkan sudah secara jelas ditulis.
Baca Juga: Menu Takjil Favorit Setiap Buka Puasa, Begini Makna Tersembunyi dari Kuliner Ramadhan Kolak
Cendol atau Dawet sendiri sudah banyak dijadikan sebagai salah satu ikon dalam tradisi pernikahan bagi masyarakat Nusantara, khususnya Jawa.
Mengacu pada ketiga variabel tersebut, maka klaim yang menyebut Cendol atau Dawet sebagai minuman khas negara Singapura atau Malaysia mentah dengan sendirinya.
Meski demikian, Hari tidak menampik jika Cendol atau Dawet bisa saja diperkenalkan oleh orang-orang asli dari Nusantara melalui proses akulturasi budaya.
Terlebih karena jumlah masyarakat asal Indonesia khususnya Jawa sangat banyak yang sudah menjalin hubungan kerja dengan kedua negara tersebut.
Dawet atau Cendol sendiri berasal dari kata Jendol yang yang dalam bahasa Jawa memiliki arti sebagai Gumpalan.
Pada prosesi pernikahan masyarakat adat Jawa, Dawet atau Cendol menjadi salah satu rangkaian yang dikenal dengan istilah Dodol Dawet atau Berjualan Dawet.
Dengan menggunakan uang khusus yang terbuat dari tanah atau Kreweng, para pembeli dawet secara filosofis sedang memberikan pesan bagi keluarga pasutri.
Selain perlu memberikan hal-hal yang manis sepanjang hidup yang diwakilkan oleh Dawet atau Cendol, Kreweng menjadi pengingat tentang asal-usul manusia.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Jakarta saat Ramadhan, dari Benhil hingga Masjid Istiqlal
Dari tanah akan kembali menjadi tanah, sepanjang waktu tersebut keluarga pasutri perlu memberikan dampak baik atau manis serta mengenyangkan bagi sekitar atau output sosial.
Sebagaimana halnya dengan puasa Ramadhan yang mengajarkan berbagai nilai, Dawet atau Cendol hadir bukan saja menghilangkan dahaga tetapi juga menguatkan makna puasa.***

Share this article
Memiliki rasa manis serta aroma santan yang khas, Cendol atau Dawet dianggap sesuai untuk sajian menu buka puasa Ramadhan.