AYOJAKARTA.COM - Tepat pada Sabtu 3 September 2022 lalu, Presiden Jokowi resmi menaikkan harga BBM.
Dalam konferensi pers, orang nomor satu di Indonesia tersebut menjelaskan bahwa subsidi BBM mulai saat ini akan dialihkan untuk bantuan yang lebih tepat sasaran.
Sehingga harga BBM yang tadinya bersubsidi nantinya akan mengalami penyesuaian.
Adapun kenaikan tersebut sebagai berikut :
Harga Pertalite dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter.
Harga Pertamax dari Rp12.000 menjadi Rp14.500 per liter.
Harga Solar dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter.
Hal ini tentu saja memicu protes keras dari berbagai lapisan masyarakat.
Baca Juga: Dituding Sebagai Bjorka, Pemuda Asal Cirebon Muhammad Said Fikriansyah Minta Perlindungan Polresta
Sebagian besar masyarakat khawatir jika kenaikan harga BBM sudah tentu akan berpengaruh pada melonjaknya harga bahan pokok.
Dikutip AyoJakarta.com dari akun YouTube Tv One News (15/9/2022), kenaikan harga bahan pokok mulai terjadi di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur seperti cabai dan bawang.
Berdasarkan informasi, kenaikan bahan pokok tersebut cukup tinggi bahkan mencapai Rp 10 ribu per kilogram.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh salah seorang pedagang sembako di Pasar Rawamangun bernama Marlina.
“Harga cabai sekarang Rp 75 ribu per kilonya," ungkap Marlina.
“Itu jenis cabe keriting," tambahnya.
Baca Juga: Terlacak Cyber Crime Berada di Madiun, Kepolisian Lakukan Penangkapan kepada Terduga Hacker Bjorka
Marlina menginformasikan bahwa sebelumnya harga cabai sekitar Rp 50 hingga Rp 60 ribu per kilogram.
Jadi menurutnya kenaikan harga ini sangatlah signifikan.
Bahkan untuk jenis cabai rawit kenaikannya mencapai Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah kenaikannya Rp 10 ribu per kilogram.
“Bawang merah yang tadinya Rp 30 ribu per kilo sekarang Rp 40 ribu per kilonya," tutur Marlina.
Kenaikan harga beberapa bahan pokok ini membuat kondisi pasar menjadi sepi.
Para pedagang berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM.
Baca Juga: WHO Umumkan Pandemi Covid-19 Segera Berakhir, Kini Sudah di Depan Mata!
Pandemi covid selama 2,5 tahun ditambah kenaikan harga BBM membuat kondisi para pedagang seketika anjlok.
“Maka dari itu kalau bisa pemerintah turunkanlah BBM, subsidi jangan diberhentikan," pinta Marlina.
Kenaikan harga pokok yang terus melonjak ini juga sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang semakin menurun.
“Pembeli yang bisanya beli sekilo sekarang jadi seperempat, pokoknya ngirit-ngirit, untuk gaya hidup sudah gak bisa, untuk hidup saja bisanya sekarang," pungkas Marlina.***
Share this article
Harga cabai di Pasar Rawamangun Jakarta Timur mulai melambung sebagai dampak dari naiknya harga BBM.