AYOJAKARTA.COM – Meski Rido mendapat dukungan dari mayoritas parpol, kemenangan pasangan Pramono-Rano di Pilkada Jakarta merupakan hal yang tidak terlalu mengejutkan.
Sebab dalam beberapa kali perhelatan Pilkada Jakarta, corak politik yang cenderung terjadi adalah kemenangan paslon yang memiliki popularitas kecil di awal.
Pilkada Jakarta 2024, tidak lain merupakan pengulangan sejarah yang berlaku sebagaimana Ahok menang dari Foke atau saat Anies menghadapi Ahok.
Baca Juga: KABAR GEMBIRA! Seleksi CPNS 2025 akan Kembali Dibuka untuk Kategori Ini, Cek Infonya
Berdasarkan pada sejarah Pilkada tersebut, pasangan yang mendapat dukungan suara dari partai mayoritas justru cenderung mengalami kekalahan.
Pandangan terkait salah satu penyebab kekalahan Rido dalam Pilkada Jakarta tersebut merupakan pernyataan Yunarto Wijaya selaku Direktur Eksekutif Charta Politik.
Menurut Yunarto, kemenangan PDIP melawan dominasi parpol yang dekat dengan kekuasaan pada awalnya merupakan suatu misi yang nyaris mustahil.
“Karena PDIP pada awalnya dianggap tidak bisa memajukan calon, dan KIM Plus sudah memborong semua partai,” ungkap Yunarto.
Namun demikian, meski berbekal elektabilitas yang relatif kecil Pramono-Rano secara bertahap dan berkelanjutan mampu menggeser dominasi Rido di Pilkada Jakarta.
Keberhasilan pasangan Pramono-Rano dalam merebut simpati dari warga Jakarta, menurut Yunarto disebabkan karena sejumlah variabel yang tidak dimiliki pasangan Rido.
Akibat mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan, Yunarto menilai pasangan Rido justru lebih mengandalkan endorse dari tokoh besar seperti Prabowo dan Jokowi.
Kepercayaan diri yang terlalu mengangkasa karena dukungan penguasa, membuat pasangan Rido kurang mengutamakan pentingnya dukungan warga Jakarta.
Meski kerja-kerja politik selama masa kampanye sudah sering dilakukan, ketersambungan antara Rido dengan warga kurang sepenuhnya terwujud.
Penyebab lain kekalahan pasangan Rido, menurut Yunarto karena keduanya bukan dirancang untuk menghadapi sebuah pertempuran politik melawan PDIP.
Pencalonan pasangan Rido, pada awalnya merupakan sebuah settingan politik dari KIM Plus yang kemenangannya sudah dapat dipastikan.
Dipersiapkan untuk melawan calon independen atau kotak kosong yang dipastikan akan menang, membuat pasangan Rido lengah dengan manuver PDIP.
Baca Juga: Peserta Ujian Harus Tahu! Tiap Jabatan PPPK Punya Bobot dan Jumlah Soal Berbeda, Berikut Rinciannya
“Saya melihat ada tren yang tidak terlalu mengagetkan, mereka tidak disiapkan untuk bertarung tapi masuk dalam skenario melawan pasangan independen,” imbuhnya.
Lebih lanjut Yunarto menilai, hal berkebalikan justru sering diperlihatkan oleh pasangan Pramono-Rano yang pada awalnya dianggap kurang populer.
Tidak terlalu menonjolkan warna merah yang merupakan ciri khas PDIP, Pramono-Rano menurut Yunarto berhasil merangkul mayoritas warga Jakarta.
Sikap egalitarian yang ditunjukkan Pramono-Rano dengan menggandeng Cak Lontong, Anies Baswedan dan Ahok serta Jakmania menjadi momentum lahirnya kemenangan.
“Narasi seperti ini lebih bisa diterima masyarakat Jakarta,” pungkasnya. ***
Share this article
Meski Rido mendapat dukungan dari mayoritas parpol, kemenangan pasangan Pramono-Rano di Pilkada Jakarta