AYOJAKARTA.COM - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta terus mendorong perbaikan sistem pengelolaan sampah di ibu kota dari hulu hingga hilir.
Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber.
Langkah ini dinilai sebagai kunci utama dalam mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) serta meningkatkan efektivitas daur ulang.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto dalam momentum halalbihalal hari Raya Idulfitri 1447 H, Jumat (27/3).
Menurut Asep, halalbihalal ini bukan hanya sebagai ajang silaturahmi, tapi juga menjadi momen untuk berbenah.
"Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Jakarta. Karena itu, pengelolaan sampah tidak bisa lagi bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan di akhir, tetapi harus dimulai dari pemilahan sejak dari sumber," ujar Asep.
Penguatan pemilahan dan pengurangan sampah di tingkat masyarakat, menurut Asep, harus jadi prioritas utama.
Ia pun meminta seluruh jajaran DLH DKI untuk memastikan sistem pengelolaan sampah bisa berjalan konsisten dari hulu hingga hilir tanpa terputus.
Selain itu, PJLP Pendamping Bidang Pengelola Sampah di tingkat RW (BPS RW) diminta terus memperkuat edukasi dan pendampingan kepada warga.
Hal ini perlu dilakukan agar budaya memilah dan mengurangi sampah jadi kebiasaan sehari-hari.
“Di sisi lain, petugas pengumpul sampah atau tukang gerobak agar terus menjaga agar sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur," pintanya.
Ia berharap dalam proses pengangkutan tidak oleh ada lagi pencampuran sampah hingga ke fasilitas pengolahan.
Hal ini juga berlaku di TPS, sampah yang masuk harus dalam kondisi terpilah dan dikelola sesuai dengan kategorinya.
“Termasuk petugas Penanganan Sampah Badan Air agar melakukan pemilahan dan pengolahan di fasilitas UPSBA,” cetusnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pengelolaan sampah di TPST bantagebang harus berjalan sesuai dengan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) serta mengoptimalkan seluruh proses pengolahan secara terpadu.
Sedangkan, untuk Suku Dinas dan Satuan Pelaksana diminta mengoptimalkan berbagai fasilitas pengolahan di lingkungan warga.
Mulai dari bank sampah, komposting, hingga biokonversi maggot BSF.
Menurut Asep, langkah ini sangat penting dilakukan agar sampah bisa diselesaikan sejak dari sumber dan tidak seluruhnya bermuara ke TPST Bantargebang.***
Share this article
Langkah ini dinilai sebagai kunci utama dalam mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) serta meningkatkan efektivitas daur ulang.