AYOJAKARTA.COM - Salah satu fenomena unik dalam beberapa kali perhelatan Pilkada Jakarta adalah hasil survei elektabilitas yang kontradiksi dengan realitas.
Bercermin pada Pilkada Jakarta tahun 2012 saat Fauzi Bowo mengalahkan Jokowi di survei elektabilitas, hal serupa terjadi pada 2017 saat Anies baswedan menghadapi Ahok.
Pandangan serupa terkait hasil survei elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan Pramono Anung-Rano Karno, ditengarai akan kembali terulang.
Sehubungan dengan adanya pandangan tersebut, Ahmad Khoirul Umam selaku Pakar Politik memberikan tanggapan.
Baca Juga: UPDATE! Surat Perintah Membayar BPNT Sudah 'SPM, Satu Langkah Lagi Menuju 'SI'
Menurut Umam, kecenderungan menyangkut posisi runner up yang mengalahkan posisi jawara survei memang merupakan historis politik dan tidak dapat disangkal.
Sebab kesadaran masyarakat yang semakin meningkat terhadap kualitas paslon, dapat menciptakan dampak terhadap perolehan suara.
Kekeliruan kecil selama masa kampanye yang dilakukan oleh setiap paslon, menurut Umam akan membawa dampak politik di kalangan publik.
Karena itu setiap paslon peserta Pilkada Jakarta beserta atribut pendukungnya, wajib mematuhi setiap aturan main yang ada.
Baca Juga: Yes! Saldo Rp400 Ribu Cair di KKS para KPM, Apakah Bansos PKH atau BPNT September-Oktober?
“Sekali ada keseleo lidah atau kesalahan menyampaikan argumen, maka akan membuka ruang tembak yang akan menjadi bulan-bulanan dari rival politik,” ungkap Umam dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Sabtu (28/9/2024).
Kekeliruan Ahok mengenai penggunaan potongan surat Al Maidah, merupakan suatu bentuk keseleo lidah yang berakibat menurunnya elektabilitas secara instan.
Pertarungan serupa antara Jokowi dengan Fauzi Bowo yang ketat, menurut Umam juga menjadi representasi bagaimana psikologis dari pemilih Jakarta.
Lebih lanjut Umam menilai pemilih Jakarta merupakan individu-individu yang tidak mudah untuk dikekang, sehingga perlu terus diperhatikan.
Proses penyampaian visi dan misi, narasi dan argumentasi harus benar-benar diperhatikan oleh setiap paslon agar dapat terhindar dari kutukan kontradiksi tersebut.
Mengacu pada Daftar Pemilih Tetap, Umam menilai kaum muda merupakan faktor penentu kemenangan di ajang Pilkada Jakarta.
Dengan angka statistik mencapai lebih dari 50 persen, paslon bisa mudah memperoleh kemenangan jika mampu meraih dukungan kaum muda.
“Mereka punya keterikatan dengan media sosial yang cukup kuat, kalau salah satu kandidat bisa masuk kesana, maka harus diwaspadai,” imbuh Umam.
Baca Juga: Iriana Jokowi Tiba-Tiba Pamitan dan Minta Maaf, Ada Kaitan dengan Kasus Kaesang dan Fufufafa?
Terkait dengan hasil survei elektabilitas dan menjadikan pasangan Rido sebagai pemegang kekuatan terbesar, Umam menilai masih ada variabel yang kurang.
Kehadiran kaum muda para pendukung Anies yang menggagas Coblos Tiga Paslon, menurut Umam belum sepenuhnya masuk .
Keberhasilan setiap paslon untuk bisa meraih simpati dan dukungan dari Anak Abah, bisa menjadi modal menang yang lebih optimal. ***

Share this article
Berikut ini hasil survei elektabilitas ketiga paslon cagub-cawagub DKI Jakarta 2024, Ridwan Kamil-Suswono ada di posisi pertama.