AYOJAKARTA.COM – Menjelang pelaksanaan Pilgub Jakarta, sosok Anies Baswedan disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk menempati kursi Jakarta Satu.
Menjadi figur paling banyak mendapat dukungan untuk berlaga di Pilgub Jakarta, tingkat elektabilitas Anies Baswedan menempati urutan teratas.
Berdasarkan hasil survei Indikator Politik periode 16-26 Juli 2024, Ahok serta Ridwan Kamil digadang-gadang paling potensial menjadi lawan Anies Baswedan di Pilgub Jakarta.
Dengan 11 kursi dukungan dari Partai NasDem dan 18 dari PKS, Anies dipastikan dapat melaju dan berlaga di Pilgub Jakarta.
Baca Juga: PDIP Berpeluang Usung Anies Baswedan di Pilgub Jakarta 2024, Puan Sebut Peluang di Atas 50 Persen
Berbekal pengalaman sebagai Gubernur Jakarta periode 2017-2022, sejumlah partai politik terus melakukan formulasi untuk mencari lawan seimbang guna menghadapi Anies Baswedan.
Meski dianggap sebagai figur paling pantas untuk mengimbangi Anies, calon lain semisal Ahok dan RK dinilai lebih potensial untuk maju di daerah lain.
Selain karena adanya pengalaman politik identitas di masa lalu yang membayangi Ahok, Partai Golkar juga lebih cenderung memposisikan RK berlaga di Pilgub Jawa Barat.
Menurut Ace Hasan Syadzily yang merupakan Ketua DPD Golkar Jabar, antusiasme masyarakat Jabar sangat kuat dengan sosok RK.
“Survei terakhir dari kita, kuat sekali keinginan masyarakat Jabar yang menginginkan agar RK kembali dicalonkan menjadi Gubernur,” jelas Ace Hasan Syadzily dikutip ayojakarta.com dari YouTube KOMPASTV, Sabtu (27/7/2024).
Terkait potensi RK untuk bisa berlaga di Pilgub Jakarta, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia memberi tanggapan.
Menurut Burhanuddin Muhtadi, potensi untuk menjadi lawan Anies di Pilgub Jakarta sangat terbuka bagi RK meski tidak sebesar di Jawa Barat.
“Kalau Ahok tidak maju, itu Ridwan Kamil langsung dapat durian runtuh sehingga selisih elektabilitas dengan Anies menjadi semakin menipis,” jelasnya.
Baca Juga: Anies Pimpin Simulasi, Ridwan Kamil Punya Kesempatan Besar di Pilkada Jakarta
Lebih lanjut, Burhanuddin menilai jumlah dukungan warga Jakarta yang belum mencapai angka 50 persen merupakan indikasi masih terbukanya peluang berkompetisi.
Perolehan elektabilitas masing-masing calon yang masih fluktuatif dan berubah-ubah, bisa merupakan refleksi Pilgub Jakarta akan berlangsung dua putaran.
“Meskipun punya elektabilitas tinggi, tapi Anies tidak cukup aman karena lawan definitifnya masih belum diketahui,” imbuhnya.
Masih belum adanya pasangan calon yang pasti akan diikutsertakan dalam Pilgub Jakarta, menurut Burhan merupakan pintu masuk dari semua kemungkinan.
Baca Juga: Anies Baswedan Unggul di Pilkada Jakarta, Ridwan Kamil Disebut Bisa Balik Keadaan, Ini Sebabnya
Adanya persyaratan memasangkan Sohibul Iman sebagai Cawagub yang disodorkan PKS, bisa menjadi momentum timbulnya perubahan.
Terlebih karena dari Koalisi Indonesia Maju, proses penentuan figur pasangan Cagub-Cawagub untuk berlaga di Pilgub Jakarta masih belum berbuah kesepakatan.
“Kalau Anies, Ahok dan RK maju yang diprediksi lolos ke putaran kedua adalah Anies versus Ahok,” pungkasnya.***

Share this article
Pengamat politik ungkap alasan soal kemungkinan peluang Anies Baswedan vs Ahok di Pilgub Jakarta 2024.